Awas, Pola Asuh Helikopter Bikin Anak Berkelakuan Buruk

Vania Rossa
Awas, Pola Asuh Helikopter Bikin Anak Berkelakuan Buruk
Ilustrasi pola asuh helikopter. (Shutterstock)

Apa itu pola asuh helikopter, dan apa dampaknya?

Suara.com - Apakah Anda sangat suka mengatur hidup si kecil? Atau, Anda cenderung memutuskan semua hal yang berkaitan dengan hidupnya? Awas, itu pertanda Anda telah terjebak dalam helicopter parenting atau pola asuh helikopter, di mana orangtua cenderung mengendalikan hidup anak-anaknya. Dan kabar buruknya, pola asuh helikopter ini dapat menyebabkan anak memiliki masalah perilaku dalam kehidupan sehari-harinya.

Para peneliti di University of Minnesota mengatakan bahwa pola asuh helikopter dapat berdampak negatif terhadap kondisi emosional anak, membuat mereka kurang mampu mengendalikan emosi dan mengatasi situasi sosial.

Sebaliknya, para peneliti mengatakan bahwa anak-anak yang belajar untuk menangani situasi yang menantang tanpa campur tangan orangtuanya, terbukti akan lebih sukses di kemudian hari.

"Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan orangtua yang menjalankan pola asuh helikopter, kurang mampu menghadapi masalah dalam hidupnya, terutama di lingkungan sekolah yang kompleks," kata peneliti utama Nicole Perry dari University of Minnesota.

"Anak-anak yang tidak dapat mengatur emosi dan perilaku mereka secara efektif, lebih mungkin untuk berperilaku buruk di sekolah, serta mengalami kesulitan mencari teman," katanya.

Hasil studi yang juga diterbitkan oleh American Psychological Association dalam jurnal Development Psychology ini meneliti pola asuh dan perilaku dari 422 anak-anak dan orangtua mereka di Amerika dan Swiss.

Pada usia 2 tahun, ibu dan anak-anaknya diundang ke laboratorium dan diminta untuk bermain dengan mainan yang telah dipilih selama empat menit, dan kemudian menyimpannya selama dua menit berikutnya.
Sesi-sesi tersebut direkam dan para peneliti sambil mereka menilai seberapa jauh sang ibu mencoba mengambil alih tugas tersebut.

Kemudian, pada usia lima tahun, tim melihat respons anak-anak terhadap pembagian permen yang tidak adil, dan kemampuan mereka untuk memecahkan teka-teki di bawah tekanan waktu.

Akhirnya, pada usia 10 tahun, anak-anak ditanyai tentang sikap mereka terhadap sekolah dan guru, serta masalah-masalah emosional.

Penelitian menemukan bahwa pola asuh helikopter yang diterapkan pada anak usia dua tahun dikaitkan dengan perilaku buruk dan kondisi emosional yang lebih buruk pada saat mereka mencapai usia lima tahun.

Sementara itu, mereka yang lebih mampu mengatur emosi pada usia ini lebih mungkin memiliki keterampilan sosial yang lebih baik dan menjadi lebih produktif di sekolah pada usia 10 tahun, demikian menurut hasil studi tersebut, seperti dilansir dari The Independent.

"Anak-anak yang mengembangkan kemampuan untuk secara efektif menenangkan diri selama situasi yang menyusahkan dan untuk melakukan segala urusannya sendiri dengan tepat, terbukti lebih mudah menyesuaikan dengan tuntutan yang semakin sulit dari lingkungan sekolah saat mereka praremaja," kata Perry.

Temuan ini menekankan pentingnya bagi orangtua untuk membiarkan anak-anak mengerjakan semua tugas-tugas yang sulit, agar mereka tertempa melewati berbagai kesulitan hidup nantinya.

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS