Rumitnya Permasalahan Pengobatan Kanker di Indonesia

Vania Rossa, Vessy Dwirika Frizona

Senin, 15 Juli 2019 | 19:49 WIB
Rumitnya Permasalahan Pengobatan Kanker di Indonesia
Ilustrasi pengobatan kanker. (Shutterstock)

Suara.com - Sebuah studi menyebutkan, setiap tahun diperkirakan Indonesia mengalami kerugian US$ 48 miliar atau sekitar Rp 672 triliun karena pasien yang berobat keluar negeri, termasuk pasien penderita kanker.

Tak bisa dipungkiri, kebanyakan masyarakat Indonesia memang masih menganggap mutu pengobatan kanker di Indonesia belum memuaskan, sehingga banyak pasien meninggal dunia akibat kanker.

Namun, harus diakui bahwa memang tata laksana pengobatan kanker di Indonesia masih memiliki banyak masalah. Dr. A. Hamid Rochanan, SpB-KBD, MKes, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Digestif Indonesia (IKABDI), memberikan pemaparan mengenai perkembangan penatalaksanaan kanker, terutama kanker kolorektal.

"Kemajuan standar penatalaksanaan kanker yang meningkatkan hasil terapi hanya akan bermakna jika bisa diakses oleh pasien yang membutuhkannya. Kanker adalah penyakit katastropik, yang bukan saja membuat pasien terbebani karena penyakitnya, tetapi juga karena pembiayaan terapinya. Oleh karena itu, negara harus hadir untuk menjembatani akses terhadap standar terapi kanker, terutama di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)," jelas dokter Hamid saat ditemui Suara.com, Senin (15/7/2019).

Secara khusus ia menjelaskan tentang terapi target untuk kanker kolorektal yang tengah menjadi isu karena dicabut dari Formularium Nasional (Fornas) dan dihentikan penjaminannya oleh Kementerian Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.01.07/Menkes/707/2018.

“Terapi target bekerja dengan menargetkan gen atau protein tertentu untuk membantu menghentikan kanker tumbuh dan menyebar. Gen dan protein tersebut ditemukan di sel kanker atau sel yang terkait dengan pertumbuhan kanker. Dokter menggunakan terapi target dengan kemoterapi dan perawatan Iainnya pada kanker kolorektal metastasis (stadium IV) secara selektif sesuai indikasi medis. Di Indonesia, terapi target telah lama tersedia, dan beberapa di antaranya dijamin oleh ASKES dan selanjutnya oleh BPJS Kesehatan," paparnya.

Berdasarkan Fornas baru, dua obat kanker terapi target yaitu cetuksimab dan bevacizumab dihapus untuk kanker kolorektal. Cetukslmab masih masuk dalam Fornas yang diindikasikan untuk kanker lain di luar kanker kolorektal, sedangkan bevacizumab yang pada Fornas sebelumnya diindikasikan untuk kanker kolorektal sama sekali dihilangkan dari Fornas baru.

“Tidak menjamin kedua obat tersebut berarti mendorong dokter untuk hanya memberikan kemoterapi saja, sehingga pasien kanker kolorektal metastasis yang membutuhkan terapi target tidak mendapatkan hak pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau sesuai indikasi medis," lanjutnya.

baca juga
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kematian Akibat Kanker di Indonesia Tinggi, Ini Penyebabnya

Kematian Akibat Kanker di Indonesia Tinggi, Ini Penyebabnya

Health | Senin, 15 Juli 2019 | 19:12 WIB

Studi: Ibu Hamil yang Obesitas Tingkatkan Risiko Anak Mengalami Kanker

Studi: Ibu Hamil yang Obesitas Tingkatkan Risiko Anak Mengalami Kanker

Health | Jum'at, 12 Juli 2019 | 13:40 WIB

Peneliti Sebut Minuman Manis Bisa Memicu Pertumbuhan Kanker

Peneliti Sebut Minuman Manis Bisa Memicu Pertumbuhan Kanker

Health | Kamis, 11 Juli 2019 | 19:00 WIB

Terkini

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Jawa Tengah | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:50 WIB

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:49 WIB

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:21 WIB

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:11 WIB

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:04 WIB

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Lifestyle | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

×