Suara.com - Polemik vape alias rokok elektrik masih berlanjut. Perdebatan antara pakar kesehatan dengan pengusaha masih berada dalam posisi berseberangan. Berbagai klaim yang menyebut vape lebih baik dari pada rokok biasa terus dibantah oleh para tenaga medis. Dalam sebuah pemaparan, Ketua Yayasan Jantung Indonesia, Esti Nurjadin, mengatakan vape justru dapat menjadi pemicu penyakit jantung koroner.
"Yayasan Jantung Indonesia tidak pernah berhenti mengampanyekan gaya hidup sehat dan turut aktif dalam upaya penurunan kematian akibat penyakit dan pembuluh darah. Nah, vape efeknya sama saja dengan rokok," ucap Esti Nurjadin saat ditemui Suara.com di Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre, Kamis (10/8/2019).
Lebih lanjut ia menyayangkan pengaruh media sosial yang telah mencitrakan pengguna vape terlihat keren. Menurutnya, media sosial gampang sekali menularkan gaya hidup tidak sehat.
"Media sosial gampang sekali menularkan gaya hidup yang tidak sehat. Tren vape seolah ditampilkan menjadi alat baru yang lebih sehat daripada rokok. Padahal rokok dan vape memiliki faktor risiko yang sama. Medsos seolah menggambarkan gaya hidup orang pengguna vape itu keren. Sementara di Amerika Serikat, banyak orang menjadi korban akibat vape."
Di tempat yang sama, Prof. Dr. Dr. Idrus Alwi, Sp.PD, KKV, FACC, FESC., menjelaskan bahwa vape dan rokok sama-sama menyebabkan lapisan arteri rusak, dinding arteri menebal, dan terjadi penumpukan lemak serta plak yang menghambat aliran darah di sepanjang arteri.
"Ketika arteri yang memasok darah ke jantung mengalami penyempitan, pasokan darah yang kaya akan oksigen menuju jantung akan menurun yang dapat mengakibatkan penyakit jantung koroner. Penyempitan arteri akan sangat berbahaya selama menjalani aktivitas fisik. Jantung yang terus dipaksa untuk bekerja memompa dapat menyebabkan nyeri dada atau bahkan serangan jantung (dalam kasus penyumbatan arteri secara keseluruhan)," papar Prof. Idrus.