Hari Stroke Sedunia, Ini Manfaat Hydrotherapy Untuk Pasien

Silfa Humairah Utami | Risna Halidi
Hari Stroke Sedunia, Ini Manfaat Hydrotherapy Untuk Pasien
Ilustrasi rehabilitasi pasien stroke. (Shutterstock)

Begini rehabilitasi pasien stroke dengan hydrotherapy.

Suara.com -  Rehabilitasi Pasien Stroke, Ini Manfaat Hydrotherapy

Setiap tahun dunia memperingati World Stroke Day atau Hari Stroke Sedunia yang jatuh pada 29 Oktober.

Peringatan tersebut tidak lain sebagai pengingat betapa berbahayanya penyakit katastropik tersebut. Bahkan menurut data WHO, 1 dari 4 orang akan mengalami serangan stroke dalam hidupnya.

Meski preventif lebih baik daripada mengobati, tapi tak ada salahnya mengenal salah satu metode perawatan bagi pasien stroke. Salah satunya adalah metode hydrotherapy.

"Hydrotherapy ini artinya rehabilitasi pasien stroke yang dilakukan di air, dengan media air. Kalau kita latihan di tempat tidur dilatih oleh terapis, itu berarti medianya udara. Nah kalau hydrotherapy ini di air," kata Spesialis saraf dari Pusat Terapi Robotik Pasca Stroke Klinik Wijaya, Dokter Sukono Djojoatmodjo kepada media beberapa waktu lalu.

 Rehabilitasi pasien stroke yang dilakukan di air, dengan media air. (Suara.com/Risna Halidi)
Rehabilitasi pasien stroke yang dilakukan di air, dengan media air. (Suara.com/Risna Halidi)

Meski pemilihan terapi tetap wewenang dan sesuai assessment dokter, namun hydrotherapy dianggap sesuai bagi beberapa pasien stroke yang memasuki tahap pemulihan lebih lanjut.

Pertama, media air dianggap dapat membantu pasien stroke merasa tubuhnya lebih rileks. "Dengan air suhunya di 30 derajat, mereka lebih rileks, lebih enak dan suasananya juga lebih nyaman," tambah Dokter Sukono.

Kedua, medium air juga membuat massa tubuh pasien 30 persen berkurang. Sehingga dapat membuat mereka melakukan gerakan-gerakan terapi lebih mudah. "Itulah yang membuat pasien menjadi lebih maju secara fungsional dari ketidakmampuan fisik akibat stroke-nya."

Saat melakukan hydrotherapy, pasien biasanya akan diminta melalukan gerakan-gerakan seperti peregangan, keseimbangan, dan berjalan di dalam air dengan kedalaman 1 meter.

Mereka juga akan dibekali pelampung di bagian badan, kaki, tangan hingga leher.

Meski demikian, Dokter Sukono menolak anggapan bahwa satu terapi lebih baik dari terapi lainnya. "Tidak bisa dikatakan mana yang lebih efektif. Ada kondisi-kondisi tertentu yang kita nilai bahwa lebih baik kita berikan latihan di air. Misal merasa lebih nyaman dan rileks di air daripada di tempat tidur atau pasien sudah bisa buang air kecil sendiri," tutupnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS