Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?

Dinda Rachmawati | Suara.com

Senin, 23 Februari 2026 | 07:05 WIB
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
Ilustrasi Virus Nipah (Shutterstock)
  • Virus Nipah, zoonosis pertama teridentifikasi tahun 1999 di Malaysia dan Singapura, dapat menyebabkan radang otak fatal.
  • Gejala awal mirip infeksi umum, tetapi dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan dan penurunan kesadaran.
  • Penanganan fokus pada stabilisasi karena belum tersedia vaksin atau antivirus spesifik; deteksi dini sangat penting.

Suara.com - Demam tinggi yang muncul mendadak, disertai sakit kepala berat, nyeri otot, hingga gangguan pernapasan dan penurunan kesadaran tidak boleh dianggap sebagai infeksi biasa. 

Di tengah mobilitas global yang semakin tinggi, kewaspadaan terhadap penyakit berisiko tinggi tetap diperlukan, termasuk terhadap Virus Nipah

Meski hingga kini belum ditemukan kasus di Indonesia, potensi penularannya tetap menjadi perhatian karena karakter virus yang mematikan dan kemampuannya berpindah dari hewan ke manusia.

Virus Nipah adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Nipah (NiV), sejenis virus RNA dari kelompok Paramyxovirus yang pertama kali diidentifikasi pada 1999 di Malaysia dan Singapura, terutama di kawasan peternakan babi. 

Penyakit ini tergolong zoonosis, dengan reservoir alami berupa kelelawar pemakan buah. Dalam kondisi tertentu, hewan perantara seperti babi dapat mempercepat penularan ke manusia. 

Infeksi yang terjadi tidak hanya menyerang saluran pernapasan, tetapi juga dapat mengenai sistem saraf pusat sehingga memicu radang otak atau ensefalitis yang berisiko fatal.

Menurut dr. Timoteus Richard, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam di Bethsaida Hospital Gading Serpong, penyakit infeksi dengan fatalitas tinggi seperti Virus Nipah menuntut kewaspadaan sejak gejala awal. 

"Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang optimal,” kata dr. Timoteus.

Ia menegaskan bahwa meskipun Indonesia belum melaporkan kasus, faktor seperti keberadaan habitat kelelawar buah, belum tersedianya vaksin maupun antivirus spesifik.

Selain itu, kemudahan perjalanan internasional dari dan ke negara yang pernah melaporkan kasus seperti India dan Bangladesh membuat risiko lintas negara tidak bisa diabaikan.

Secara klinis, gejala Virus Nipah umumnya muncul dalam rentang 5 hingga 14 hari setelah paparan. Keluhan awal sering kali menyerupai infeksi virus pada umumnya, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, mual, muntah, serta tubuh terasa sangat lemas.

Namun pada sebagian kasus, kondisi dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan akut, batuk berat, penurunan kesadaran, kejang, hingga radang otak. 

“Gejala awal Virus Nipah sering menyerupai infeksi biasa. Namun, bila disertai penurunan kesadaran atau gangguan napas, kondisi ini harus segera ditangani di fasilitas kesehatan,” ujar dr. Timoteus.

Karena belum tersedia terapi antivirus spesifik maupun vaksin, penanganan Virus Nipah berfokus pada terapi suportif dan stabilisasi kondisi pasien. Di sinilah peran deteksi dini menjadi sangat penting. 

Pemeriksaan biasanya diawali dengan evaluasi klinis menyeluruh, termasuk riwayat perjalanan, riwayat kontak dengan hewan, serta gejala neurologis dan pernapasan yang muncul. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dharma Pongrekun: Virus Nipah Datang dengan Kepentingan!

Dharma Pongrekun: Virus Nipah Datang dengan Kepentingan!

Video | Selasa, 10 Februari 2026 | 16:50 WIB

Dharma Pongrekun Kritik Respons Pemerintah soal Virus Nipah: Hanya Mengikuti Alarm Global!

Dharma Pongrekun Kritik Respons Pemerintah soal Virus Nipah: Hanya Mengikuti Alarm Global!

News | Selasa, 10 Februari 2026 | 08:51 WIB

Dharma Pongrekun Soal Virus Nipah: Setiap Wabah Baru Selalu Datang dengan Kepentingan

Dharma Pongrekun Soal Virus Nipah: Setiap Wabah Baru Selalu Datang dengan Kepentingan

News | Senin, 09 Februari 2026 | 23:22 WIB

Terkini

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 23:08 WIB

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 12:18 WIB

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 10:40 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:59 WIB

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:39 WIB

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:30 WIB

Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi

Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:30 WIB

Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan

Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan

Health | Jum'at, 22 Mei 2026 | 13:11 WIB

Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!

Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!

Health | Jum'at, 22 Mei 2026 | 11:27 WIB