Kita Butuh untuk Mencintai Diri Sendiri, Apa Bedanya dengan Egois?

Silfa Humairah Utami | Dini Afrianti Efendi
Kita Butuh untuk Mencintai Diri Sendiri, Apa Bedanya dengan Egois?
Felicia Maukar, Co-Founder of Soul Dewi sekaligus psikolog memaparkan program Soul Dewi. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Ini lho beda mencintai diri sendiri dan egois

Suara.com - Kita Butuh untuk Mencintai Diri Sendiri, Apa Bedanya dengan Egois?

Pernah menghadapi orang yang percaya dirinya selangit atau sering disebut juga narsis, apapun yang ada padanya dijadikan bahan pamer dengan tujuan membuat orang lain iri.

Tapi ada juga perumpamaan self love atau mencintai diri sendiri yang mirip-mirip dengan narsis dan egois. Lalu apa bedanya?

Psikolog Felicia Maukar mengatakan dasarnya ada pada mencari keuntungan untuk siapa, jika untuk diri sendiri ia disebut egois atau narsis. Sebaliknya jika tujuannya untuk orang lain maka disebut mencintai diri sendiri atau self love.

"Kalau egois, kita cinta diri untuk keuntungan diri sendiri. Bentuknya, merawat diri dan mempercantik diri sendiri lebih ke pamer atau spread, benefit hanya untuk diri sendiri," ujar Felicia di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (6/11/2019).

"Sedangkan kalau self love, konsep lebih luas untuk bisa mengisi ke orang lain, ini kembali ke goal kita mau bagaimana lebih ke keluarga atau orang lain," lanjut Felicia.

Perempuan yang juga Co-Founder of Soul Dewi itu mengatakan self love bukanlah sesuatu yang negatif, karena dasar yang dilakukannya untuk kebaikan banyak orang. Selain untuk diri sendiri, keluarga, perusahaan hingga lingkungan, karena saat orang itu mencintai diri sendiri ia akan semakin bisa berbuat sesuatu untuk orang lain yang membutuhkan.

"Mencintai diri sendiri agar bisa mencintai orang lain, jangan diartikan sebagai negatif, tapi bentuk perhatian pada orang lain dan bertumbuh," jelasnya.

Sebagai catatan mencintai diri sendiri juga tidak boleh berlebihan loh, karena selain dampaknya menjadi egois, juga akan membuat orang itu semakin menuntut lebih kepada diri sendiri. Alhasil, terciptalah rasa depresi parahnya hingga kelainan jiwa.

"Kalau terlalu obsesi sama diri sendiri kita akan rusak karena obsesi. Kita terletak pada diri kita sendiri bukan keluar, pertama orang akan gampang depresi karena dia lebih memikirkan perasaan dia sendiri dibandingkan orang lain," ungkapnya.

"Kalau orang depresi jadi penyakit lama-lama. Sakitnya itu, kaya sakit-sakit yang kayaknya dia sudah tereleminasi dari universe ini sebagai sesuatu yang tidak berkontribusi," tutupnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS