Cegah Gangguan Jiwa, Jurnalis Wajib Lakukan Me Time dan Ikut Gathering

M. Reza Sulaiman | Dini Afrianti Efendi
Cegah Gangguan Jiwa, Jurnalis Wajib Lakukan Me Time dan Ikut Gathering
Ilustrasi gangguan jiwa. (Shutterstock)

Pekerjaan sebagai jurnalis atau wartawan diakui rentan dengan tekanan dan stres tinggi. Apa kata psikolog?

Suara.com - Cegah Gangguan Jiwa, Jurnalis Wajib Lakukan Me Time dan Ikut Gathering 

Pekerjaan sebagai jurnalis atau wartawan diakui rentan dengan tekanan dan stres tinggi. Jadi tidak heran pekerjaan ini rentan terhadap depresi hingga gangguan mental.

Mengatasi hal ini, Psikolog Sustriana Saragih menyarankan para jurnalis untuk tidak lupa melakukan 'me time' untuk merilis stres, sehingga tidak membebani mental. Sedangkan hal yang wajib dilakukan perusahaan media, yakni menyediakan waktu para jurnalisnya untuk tidak memikirkan pekerjaan, salah satunya dengan menggelar gathering.

Tapi ia mengingatkan gathering tidak dilakukan sambil bekerja dan memikirkan berita, melainkan fokus pada peningkatan kualitas mental jurnalisnya. Misalnya, diberikan materi seputar kualitas hidup.

"Mungkin bisa berfokus pada hal-hal yang bisa meningkatkan sumberdaya manusia, bisa tentang leadership, jadi jurnalis hidupnya bukan cuma bekerja, ada sisi lain yang perlu ditingkatkan juga," ujar Sustri kepada Suara.com saat disambangi di tempat kerjanya di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (5/12/2019)

"Misalnya bagaimana menikmati kepuasan hidup melalui komunikasi dengan pasangan hal-hal seperti itu. Bagaimana mencintai diri sendiri, dengan mengatur pola hidup, lebih ke arah meningkatkan kualitas manusia, di luar aspek pekerjaan," tambahnya.

Sustri melanjutkan, para perusahaan harus percaya saat aspek kesehatan mental karyawannya bahagia atau tanpa beban, maka secara tidak langsung akan meningkatkan produktivitas karyawannya itu sendiri, begitupun dengan jurnalis.

Psikolog Sustriana Saragih bicata tentang kesehatan jiwa jurnalis. (Suara.com/Dini Afrianti)
Psikolog Sustriana Saragih bicata tentang kesehatan jiwa jurnalis. (Suara.com/Dini Afrianti)

"Jadi kalau manusia bahagia, dia akan lebih produktif di tempat kerja," timpal Sustri.

Kalau perlu kata Sustri, selain gathering diisi dengan hal menggembirakan, bisa juga menggandeng ahli seperti psikolog maupun praktisi emotional healing untuk mengisi sesi-sesi khusus. Acara ini ampuh membuang racun atau energi negatif dalam tubuh. Mengingat secara tidak langsung jurnalis sering terpapar hal-hal negatif.

"Tadi kan jurnalis pergi ke lapangan menyaksikan ada yang anak diperkosa, istri yang dipukuli. Perilaku kriminalistas pembunuhan, itu kan sebenarnya, sadar tidak sada berkontribusi terhadap diri mereka sendiri itu. Apa yang disaksikan akan terekam, disaksikan negatif itu akan terekam emosi negatif berkontribusi terhadap emosi negatif," paparnya.

"Di sesi-sesi gathering bisa dibawakan trauma healing atau detox emosi negatif, jadi mereka healing dulu dari emosi negatif yang mereka alami yang mereka terima di lapangan," tutupnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS