Imunoterapi Disetujui FDA Sebagai Pengobatan Kanker Lini Pertama

Vania Rossa

Senin, 23 Desember 2019 | 17:41 WIB
Imunoterapi Disetujui FDA Sebagai Pengobatan Kanker Lini Pertama
Ilustrasi pengobatan imunoterapi kanker. (Shutterstock)

Suara.com - Rendahnya angka kesembuhan pada kanker membuat banyak orang pesimis pada pengobatan kanker yang ada. Meski begitu, pengobatan kanker sendiri tidaklah jalan di tempat, melainkan terus berkembang dan memberi harapan kepada para penderitanya. Yang terbaru, ada imunoterapi yang telah disetujui FDA sebagai pengobatan kanker lini pertama.

Pengobatan kanker dengan imunoterapi saat ini telah menjadi perbincangan di seluruh dunia lantaran dianggap sebagai suatu terobosan baru di dunia medis.

Dalam kondisi normal, sistem imun di tubuh berfungsi untuk mendeteksi dan menghancurkan sel asing dengan mengerahkan sel T yang terdapat pada kelenjar getah bening. Sel T inilah yang bertindak sebagai filter zat-zat asing di dalam tubuh.

Imunoterapi bertujuan untuk menstimulasi sistem imun agar secara spesifik menargetkan dan membunuh sel kanker. Obat imunoterapi diberikan kepada pasien kanker untuk mengembalikan kemampuan sistem imun dalam mengenali dan menghancurkan sel kanker.

Berbeda dengan kemoterapi dan terapi target yang bekerja pada sel kanker, pengobatan imunoterapi kanker bekerja langsung pada sel imun. Kira-kira, seperti ini gambaran perbedaan kerja ketiganya:

Kemoterapi
Sel kanker membelah diri dengan cepat, dan inilah yang disasar oleh obat kemoterapi. Demikian menurut American Cancer Society. Sayangnya, bukan hanya sel kanker saja yang membelah diri dengan cepat. Sel normal pun ada yang membelah diri dengan cepat, seperti rambut. Makanya, kemoterapi bisa berdampak pada terganggunya keseimbangan sel normal yang punya siklus hidup cepat seperti sel kanker, misal menyebabkan rambut rontok.

Terapi Target
Menurut National Cancer Institute, secara spesifik pengobatan ini menargetkan molekul biologis dalam tubuh yang berperan dalam merangsang pertumbuhan sel kanker, sehingga
pertumbuhan sel kanker menjadi terhambat, lemah, ataupun hancur. Dan karena bekerja secara spesifik pada targetnya, terapi ini tidak menyerang sel-sel normal yang membelah diri dengan cepat seperti halnya kemoterapi.

Imunoterapi
Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, SpPD-KHOM, M.Epid, FINASIM, FACP dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), mengumpamakan bahwa saat kanker, sistem kekebalan tubuh (imun) tidak bisa bekerja lantaran dibelenggu oleh sel kanker. Nah, dengan obat imunoterapi, sel kanker ini akan dipegangi sehingga sel imun bisa bekerja membunuh sel kanker.

Dalam penjelasannya, dr. Ikhwan mengatakan bahwa pada kondisi normal, tubuh memiliki sistem pertahanan untuk menghancurkan sel kanker yang disebut dengan Siklus Imunitas Kanker, seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

baca juga
Siklus Imunitas Kanker, sistem pertahanan untuk menghancurkan sel kanker.
Siklus Imunitas Kanker, sistem pertahanan untuk menghancurkan sel kanker.

Tahap pertama, sel kanker akan mengeluarkan antigen. Kemudian di tahap kedua, antigen akan dikenalkan kepada sel imun agar sel imun aktif menghancurkan sel kanker. "Tapi pada pasien kanker, tahap ketiga yang harusnya ada proses pembentukan dan aktivasi sel T ini tidak terjadi, karena ternyata ada upaya dari sel kanker untuk membuat sel imun tidak bekerja," katanya saat ditemui Suara.com beberapa waktu lalu di Jakarta.

"Penyebabnya adalah ikatan antara PD-L1 (Programmed Death Ligand 1) di sel kanker dengan B7.1 yang ada di sel imun. Ini menghentikan proses pembentukan dan aktivasi sel T di kelenjar getah bening. Maka, diciptakanlah obat imunoterapi ini, diinfuskan ke dalam tubuh orang untuk mengikat PD-L1 supaya sel T bisa diaktifkan," jelas dr. Ikhwan.

Dalam kondisi normal, PD-L1 memainkan peran penting dalam mempertahankan keseimbangan imun tubuh. PD-L1 merupakan immune checkpoint yang menjadi 'rem' respons imunitas ketika berikatan dengan B7.1 dan PD-1.

Nah, pada pengobatan imunoterapi, PD-L1 diekspresikan secara berlebihan pada permukaan sel kanker dan sel imun pada berbagai jenis kanker, yakni kanker payudara, kolorektal, paru, dan ginjal.

Siapa yang Bisa Mendapat Pengobatan Imunoterapi?

Siapa yang Bisa Mendapat Pengobatan Imunoterapi?

Pengobatan dengan imunoterapi saat ini telah memberi harapan bagi lebih banyak pasien kanker. Untuk pemeriksaan dan pengobatan imunoterapi kanker di Indonesia sendiri, saat ini sudah tersedia untuk pasien kanker paru jenis bukan sel kecil (NSCLC) stadium lanjut, kanker kandung kemih stadium lanjut, dan kanker melanoma.

Lebih lanjut menurut dr. Ikhwan, dari berbagai studi imunoterapi kanker pada kanker paru NSCLC, disebutkan bahwa pengobatan imunoterapi membantu memperpanjang ketahanan hidup pasien kanker paru NSCLC hingga 30 bulan, dari yang sebelumnya hanya maksimal 16,7 bulan.

Meski memberi harapan cerah, dr, Ikhwan mengingatkan bahwa bukan berarti pengobatan ini 100 persen akan berhasil pada pasien kanker.

"Saat ini, pada kanker paru, imunoterapi bisa digunakan sebagai first line, yaitu pengobatan yang pertama kali diberikan. Teorinya, ketika sebuah obat sudah dipilihkan menjadi nomor satu, hasilnya lebih baik daripada nomor yang lain. Itu prinsipnya. Tapi sebaik apa? Tentu tidak semua pasien begitu dikasih obat langsung berhasil sembuh, atau hasilnya bagus," kata dr. Ikhwan.

Dijelaskan lebih lanjut oleh dr. Ikhwan, pada kasus kanker paru, dokter akan mengambil jaringannya, kemudian ditentukan jenisnya apa, adenokarsinoma atau carcinoma cell skuamosa.

Dulu, pada standar pengobatan yang lama, pada adenokarsinoma, dokter akan periksakan 4 macam pertanda, yaitu EGFR (Epidermal Growth Factor Receptor), ALK (Anaplastic Lymphoma Kinase), dan ROS1. Belakangan, setelah muncul imunoterapi, ada lagi pemeriksaan PD-L1.

"Nah, dari empat itu, nanti dilihat mana yang positif. Pemeriksaan itu tidak bisa semua positif. Kalau satu positif, yang lain pasti negatif. Selama ini, paling banyak pemeriksaan EGFR yang positif, makanya kita banyak pakai yang EGFR dulu," paparnya.

Lebih lanjut menurut dr. Ikhwan, jika pemeriksaan PD-L1 positif berapa persen, dan yang lain negatif, pasien boleh ke imunoterapi. "Kalau tidak mempan, masuk ke kemoterapi, atau bisa juga kombinasi. Tapi kalau EGFR yang positif dan yang lain negatif, kita tidak pakai imunoterapi, tapi pakai pengobatan yang lain," katanya menjelaskan soal standar pemeriksaan kanker untuk menentukan obat yang cocok.

"Tapi, itu kan standarnya, ya. Mana yang positif, itu yang diduluin. Dan semua pemeriksaan ini seharusnya dilakukan bersamaan. Tapi di Indonesia, kita masih belum punya pemeriksaan ini semua. Paling EGFR saja. Kendala lain, kanker paru itu susah dibiopsi, jadi kita cuma bisa ambil sampel sedikit. Jadi, tidak memungkinkan kalau sampel yang sedikit itu dipakai untuk periksa semua. Jadi kita harus pakai untuk pemeriksaan yang paling memungkinkan dulu pengobatannya. Nah, yang dicover Askes dan BPJS baru EGFR, makanya didahulukanlah yang ini," jelasnya.

Perjalanan imunoterapi sebagai obat kanker baru bukanlah jalan yang singkat. Imunoterapi itu pertama kali dicobakan pada kanker melanoma malignum, kanker tahi lalat. Baru dicobakan ke kanker paru.

Secara teori dan teknologi, imunoterapi memang secercah harapan bagi para penderita kanker yang menanti kesembuhan. Tetapi seperti dikatakan dr. Ikhwan, tubuh manusia itu unik, begitu pula dengan sel kanker. Apa yang terjadi di dalam tubuh kita tidak ada yang tahu persis. Jadi, hampir tidak akan ada keberhasilan 100 persen.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Imunoterapi atau Kemoterapi, Mana yang Ampuh dalam Perawatan Kanker?

Imunoterapi atau Kemoterapi, Mana yang Ampuh dalam Perawatan Kanker?

Health | Selasa, 20 Agustus 2019 | 07:56 WIB

Imunoterapi, Kian Jadi Terobosan Inovatif Melawan Kanker

Imunoterapi, Kian Jadi Terobosan Inovatif Melawan Kanker

Health | Rabu, 07 Agustus 2019 | 11:01 WIB

BPOM Sahkan Obat Imunoterapi Baru untuk Kanker Paru dan Kandung Kemih

BPOM Sahkan Obat Imunoterapi Baru untuk Kanker Paru dan Kandung Kemih

Health | Kamis, 25 Juli 2019 | 14:16 WIB

Terkini

Mahkamah Konstitusi 'Main Aman' Beri Legitimasi Program MBG yang Bermasalah

Mahkamah Konstitusi 'Main Aman' Beri Legitimasi Program MBG yang Bermasalah

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:03 WIB

Sering Olahraga Bikin Rambut Lepek dan Ketombe? Ini Tips Menjaga Kulit Kepala Sehat

Sering Olahraga Bikin Rambut Lepek dan Ketombe? Ini Tips Menjaga Kulit Kepala Sehat

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:02 WIB

Gus Ipul Ingatkan Seluruh Jajaran: Program Sekolah Rakyat Butuh Kolaborasi dan Integritas

Gus Ipul Ingatkan Seluruh Jajaran: Program Sekolah Rakyat Butuh Kolaborasi dan Integritas

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:55 WIB

Kenali Modus Customer Service Palsu yang Mengincar OTP dan PIN

Kenali Modus Customer Service Palsu yang Mengincar OTP dan PIN

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:53 WIB

Dua Siswa Sekolah Rakyat Jadi Delegasi Indonesia di 9th ASEAN Children's Forum

Dua Siswa Sekolah Rakyat Jadi Delegasi Indonesia di 9th ASEAN Children's Forum

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:51 WIB

Promo Tiket Kereta Api di BRImo Langsung Dapat Cashback 15 Persen, Cek Syaratnya!

Promo Tiket Kereta Api di BRImo Langsung Dapat Cashback 15 Persen, Cek Syaratnya!

Bri | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:48 WIB

Terbukti Tarik Pungli ke Sesama PPPK, 1 ASN Pemprov Banten Dipecat Tidak Hormat

Terbukti Tarik Pungli ke Sesama PPPK, 1 ASN Pemprov Banten Dipecat Tidak Hormat

Banten | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:47 WIB

Pemkab Musi Banyuasin Usulkan Lahan Sekolah Rakyat

Pemkab Musi Banyuasin Usulkan Lahan Sekolah Rakyat

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:47 WIB

Habiskan Malam Panjang di Ibu Kota: Intip 5 Cara Menikmati Jakarta hingga Dini Hari di PIK

Habiskan Malam Panjang di Ibu Kota: Intip 5 Cara Menikmati Jakarta hingga Dini Hari di PIK

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:45 WIB

Dari Susu Jadi Yogurt Berkualitas, Transformasi Peternak Karanglo Naik Kelas Bersama BRI

Dari Susu Jadi Yogurt Berkualitas, Transformasi Peternak Karanglo Naik Kelas Bersama BRI

Bri | Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:38 WIB

×