Array

Mengenal Sindrom Patah Hati yang Bisa Berujung Fatal

Yasinta Rahmawati Suara.Com
Rabu, 25 Desember 2019 | 19:30 WIB
Mengenal Sindrom Patah Hati yang Bisa Berujung Fatal
Patah hati. (Shutterstock)

Suara.com - Para peneliti telah mengonfirmasi dalam beberapa tahun terakhir bahwa stres ekstrem dapat benar-benar menghancurkan hati Anda. Mereka menyebutnya dengan sindrom patah hati.

Dirangkum dari WebMD, sindrom patah hati bisa terjadi ketika orang atau hewan peliharaan mati, selama perawatan medis yang penuh stres, setelah kehilangan pekerjaan atau ketika stres luar biasa lainnya terjadi.

Sindrom ini umumnya menyerang wanita. Sementara literatur medis tentang sindrom patah hati masih jarang, sudah banyak kasus terungkap.

Selama periode 6 tahun, para peneliti dari MD Anderson Cancer Center di Houston menemukan 30 pasien yang menjalani pengobatan kanker memenuhi kriteria untuk sindrom patah hati. Peneliti mengatakan diagnosis harus dipertimbangkan pada pasien kanker yang mengalami nyeri dada .

Dalam laporan lain, seorang dokter menyajikan riwayat kasus dari dua wanita yang lebih tua. Satu dirawat karena penyakit paru-paru kronis dan yang lainnya untuk gastritis, yang mengalami sindrom patah hati.

Ilustrasi putus cinta, patah hati. (Shutterstock)
Ilustrasi putus cinta, patah hati. (Shutterstock)

Ketika jantung pasien "pecah", ruang pompa utama, ventrikel kiri, melemah, menyebabkan rasa sakit dan sesak napas. Kondisi ini reversibel dan sementara tetapi dapat menyebabkan komplikasi yang mirip dengan yang terjadi setelah serangan jantung.

Para ahli berpikir itu disebabkan oleh membanjirnya hormon (seperti adrenalin) yang dihasilkan selama situasi stres yang membuat jantung tersengat.

Lebih dari 6.200 kasus sindrom patah hati dilaporkan pada 2012 di Amerika Serikat, naik dari sekitar 300 pada 2006, kata Abhijeet Dhoble, seorang ahli jantung di Memorial Hermann Heart & Vascular Institute Houston.

"Seringkali, seorang pasien mengalami banyak hal sekaligus dan sesuatu membuat mereka tersandung," kata Dhoble. "Hampir selalu ada pemicu stres yang sangat berbeda. Jika Anda bertanya pada pasien dengan cermat, mereka akan memberi tahu Anda tentang itu," lanjutnya.

Baca Juga: Inggris Tawarkan Penginapan Gratis untuk Traveler yang Baru Patah Hati

Ilustrasi perempuan yang menderita, kesedihan perempuan. [Shutterstock]
Ilustrasi perempuan yang menderita, kesedihan perempuan. [Shutterstock]

Sindrom patah hati tidak terjadi begitu saja setelah seseorang atau hewan peliharaan mati, kata Jeffrey Decker, kepala bagian kardiologi klinis di Institut Kesehatan Spektrum Frederik Meijer Heart & Vascular di Grand Rapids, MI.

Nyeri hebat dapat memicu sindrom ini. Begitu juga serangan asma , pertengkaran sengit, pesta kejutan atau bahkan berbicara di depan umum.

Gejala sindrom patah hati sendiri paling sering menyerupai serangan jantung, nyeri dada dan sesak napas. Mual, muntah, dan jantung berdebar juga bisa terjadi. Tetapi hanya pengujian lebih lanjut yang dapat menunjukkan diagnosis sindrom tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI