Sering Jadi Kebiasaan, Ada Hubungan antara Gigit Kuku dan Kesehatan Mental

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni | Suara.com

Selasa, 31 Desember 2019 | 15:11 WIB
Sering Jadi Kebiasaan, Ada Hubungan antara Gigit Kuku dan Kesehatan Mental
Ilustrasi gigit jari. (sumber: Shutterstock)

Suara.com - Anda pasti pernah melihat atau melakukan sendiri kebiasaan menggigit kuku. Umumnya, orang memandang kebiasaan gigit kuku sebagai sesuatu yang buruk dan jorok.

Padahal kebiasaan menggigit kuku ini bisa menjadi indikasi masalah kesehatan mental. Apalagi kalau kebiasaan menggigit kuku ini tidak berhenti seiring bertambahnya usia.

Dalam istilah psikologi dilansir dari Psychology Today, menggigit kuku dikenal sebagai onychophagia. Kondisi ini dianggap sebagai kebiasaan oral patologis dan gangguan perawatan yang ditandai dengan kebiasaan menggigit kuku kronis.

Onychophagia sendiri diklasifikasinya dalam DSM-5 sebagai gangguan obsesif kompulsif dan gangguan terkait. Kebiasaan ini seringkali menyebabkan kerusakan pada kuku.

Sama halnya dengan perilaku berulang lainnya seperti menarik rambut atau mencabut kulit, kebiasan menggigit kuku secara kronis bisa menyebabkan gejala bersifat psikologis dan fisik. Contohnya seperti :

  • Perasaan gelisah atau tegang sebelum menggigit
  • Perasaan lega atau kesenangan setelah menggigit
  • Perasaan malu dan bersalah
  • Kerusakan jaringan pada jari, kuku dan kutikula
  • Cedera mulut, masalah gigi, abses dan infeksi
Ilustrasi jari. (Shutterstock)
Ilustrasi jari. (Shutterstock)

Sebenarnya, penyebab seseorang mengalami onychophagia atau kebiasaan gigit kuku yang terkait kesehatan mental belum jelas. Tetapi, faktor genetik bisa menjadi salah satu yang menyebabkan seseorang cenderung mengembangkan onychophagia, gangguan suasana hati dan kecemasan lebih tinggi.

Kebiasaan menggigit kuku sendiri telah dikaitkan dengan kecemasan, karena tindakan ini bisa mengurangi stres, ketegangan atau kebosanan.

Kebanyakan orang yang memiliki kebiasaan menggigit kuku ini pun mengaku melakukannya ketika merasa gugup, bosan, kesepian atau lapar.

Sementara itu, kebiasaan gigit kuku tanpa gejala kondisi kejiwaan lain bisa dikaitkan dengan Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD), oppositional defiant disorder, separation anxiety, enuresis, gangguan tic dan masalah kesehatan mental lainnya.

Dalam mengatasi hal ini, Anda bisa mengoleskan sesuatu yang pahit pada jari tangan atau mengenakan sarung tangan. Sehingga cara ini mencegah Anda tidak menggigit kuku.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Masalah Kejiwaan Juga Penyakit, 2020 Tak Perlu Malu Bicara Kesehatan Mental

Masalah Kejiwaan Juga Penyakit, 2020 Tak Perlu Malu Bicara Kesehatan Mental

Health | Senin, 30 Desember 2019 | 08:25 WIB

Gangguan Bipolar: Membangun Kesadaran dan Cara Merangkul Penderitanya

Gangguan Bipolar: Membangun Kesadaran dan Cara Merangkul Penderitanya

Your Say | Jum'at, 27 Desember 2019 | 14:02 WIB

Bergosip Memang Asik, Tapi Ketahui Dulu Dampak Jangka Panjangnya

Bergosip Memang Asik, Tapi Ketahui Dulu Dampak Jangka Panjangnya

Health | Kamis, 26 Desember 2019 | 15:18 WIB

Terkini

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB