MSG Tak Tepat Takaran Bisa Memicu Obesitas

Vania Rossa, Dini Afrianti Efendi

Rabu, 05 Februari 2020 | 19:01 WIB
MSG Tak Tepat Takaran Bisa Memicu Obesitas
Ilustrasi penyedap masakan, MSG. (Shutterstock)

Suara.com - MSG Tak Tepat Takaran Bisa Memicu Obesitas

Banyak orang menghindari konsumsi MSG alias monosodium glutamate (MSG) yang dianggap sebagai penyedap rasa pada makanan. Bahkan, para pakar kesehatan, termasuk dokter, banyak yang tidak merekomendasikan MSG.

Faktanya, dokter tidak merekomendasikan MSG bukan karena berbahaya, melainkan pola penggunaan atau takaran MSG yang tidak tepat. Hal ini mengingat MSG bisa meningkatkan nafsu makan, dan ini berpotensi membuat orang ingin makan terus menerus.

"Jumlah (MSG) yang lebih akan meningkatkan nafsu makan. Akibatnya, nggak bisa berhenti, makannya banyak. Padahal ada satu hormon di dalam tubuh kita yang namanya leptin, ini yang mengontrol rasa kenyang," ujar pakar gizi Prof. Dr. Nurpudji A Taslim, MPH, SpGK(K), dalam acara edukasi bersama PT Sasa Inti di Jakarta Selatan, Rabu (5/2/2020).

Pakar Gizi Prof. Dr. Nurpudji A Taslim, MPH, SpGK(K) (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)
Pakar Gizi Prof. Dr. Nurpudji A Taslim, MPH, SpGK(K) (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Prof. Nurpudji melanjutkan, jika kita terus-menerus makan dengan penyedap, itu artinya kita terpicu ingin makan terus, lalu hal ini memicu resistensi hormon leptin dan membuatnya tidak lagi berfungsi. Konsumsi penyedap dan ditambah konsumsi makanan tinggi garam, hal ini pada akhirnya bisa memicu obesitas yang kemudian membuat hipertensi dan diabetes.

"Makin banyak kita makan, maka kemungkinan besar kita kelebihan berat badan dan obesitas. Di sini sebenarnya yang jadi masalah bukan MSG-nya, tapi resitensi hormon leptin tadi, yang mengakibatkan munculnya sampai ke arah hipertensi," jelasnya.

Perempuan yang juga Ketua Umum PDGKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia) ini juga menyebut saat membeli makanan di pinggir jalan, seringkali kita tidak bisa mengontrol jumlah MSG yang kita konsumsi.

Dan menurut penelitian di China yang diungkap Prof. Nurpudji, perbandingan MSG dan garam ialah 1 berbanding 3. Tentu saja yang lebih banyak efeknya adalah MSG.

"Dan yang paling penting adalah dosis yang diberikan, yang paling aman itu berapa per kilogram berat badan," ungkapnya.

baca juga

"Ini bisa dilihat bahwa penelitian yang dilakukan pada anak-anak, di sana diberikan MSG dosis berbeda, ada yang 25 ml, ada yang 50 ml diikuti selama 3 generasi, tapi ternyata tidak mengakibatkan ke arah sana (obesitas dan hipertensi," sambungnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Obesitas atau Kegemukan? Dokter Gizi Bagikan Cara Hitung Indeks Massa Tubuh

Obesitas atau Kegemukan? Dokter Gizi Bagikan Cara Hitung Indeks Massa Tubuh

Health | Jum'at, 31 Januari 2020 | 09:10 WIB

Terbaru, Ilmuwan Temukan Manfaat Minum Kopi untuk Cegah Obesitas

Terbaru, Ilmuwan Temukan Manfaat Minum Kopi untuk Cegah Obesitas

Health | Minggu, 05 Januari 2020 | 06:05 WIB

MSG Disebut Picu Kanker, Apa Kata Ahli?

MSG Disebut Picu Kanker, Apa Kata Ahli?

Health | Rabu, 19 Juni 2019 | 18:19 WIB

Terkini

Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja

Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 00:19 WIB

Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet

Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet

Bola | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 23:35 WIB

Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah

Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 23:10 WIB

Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik

Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:35 WIB

IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung

IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:27 WIB

5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau

5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:31 WIB

Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026

Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026

Otomotif | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:15 WIB

Kredit Macet Hantui Industri Pinjol

Kredit Macet Hantui Industri Pinjol

Bisnis | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:05 WIB

Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru

Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru

Jawa Tengah | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:00 WIB

Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung

Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung

Lampung | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:57 WIB

×