2. Klorokuin dan hidroksiklorokuin
Kedua telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) sebagai obat malaria, lupus, dan rheumatoid arthritis. Pada pengujian terhadap sel manusia dan primata, obat ini juga dapat mengatasi Covid-19 secara efektif.
Klorokuin juga digunakan pada kasus SARS, yang berkaitan erat dengan SARS-CoV-2.
Cara kerjanya adalah dengan mengganggu kemampuan virus untuk masuk dan mereplikasi dalam sel manusia. Hal ini juga berlaku pada obat turunannya, hidroksiklorokuin.

Sejumlah dokter di China, Korea Selatan, Prancis dan AS telah memberikan obat ini pada pasien virus corona baru. Sedangkan FDA tengah melakukan uji klinis terkait obat ini.
3. Remdesivir
Obat ini awalnya diuji pada Ebola, namun ternyata tidak begitu efektif. Namun, pada uji laboratorium antivirus ini justru terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan virus corona SARS dan MERS.
FDA pun telah menyetujui penggunaan remdesivir sebagai 'penggunaan penuh kasih', yang artinya obat ini hanya digunakan pada pasien Covid-19 parah.
4. Lopinavir dan Ritonavir
Dalam data baru dari China yang terbit pada 18 Maret 2020 di New England Journal of Medicine, dokter tidak dapat mendeteksi manfaat dari kombinasi obat HIV ini terhadap pasien.
Sejumlah 199 pasien dengan kadar oksigen rendah secara acak menerima obat antivirus kaletra atau plasebo ini. Tetapi hasilnya kurang memuaskan.
Namun, penelitian lain masih berlangsung, dan masih ada kemungkinan lopinavir dan ritonavir dapat menunjukkan beberapa manfaat. Seperti antivirus lain, obat ini kemungkinan bekerja lebih baik jika diberikan lebih awal pada pasien.

5. Losartan
Ini adalah obat generik untuk tekanan darah. Cara kerjanya adalah dengan memblokir reseptor, atau pintu masuk ke se, yang mana akan dimasuki oleh angiotensin II. Kemudian bahan kimia ini akan meningkatkan tekanan darah.
SARS-CoV-2 berikatan dengan reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2), sehingga kemungkinan losartan dapat memblokir reseptor-reseptor tersebut sehingga akan mencegah virus menginfeksi sel.