150 Pasien Covid-19 di Indonesia dinyatakan Sembuh, Benarkah Jadi Kebal?

Bimo Aria Fundrika | Dini Afrianti Efendi
150 Pasien Covid-19 di Indonesia dinyatakan Sembuh, Benarkah Jadi Kebal?
Achmad Yurianto, Juru Bicara Pemerintah Covid-19 (capture Youtube BNPB)

Simak penjelasan ahli virus soal imunitas tubuh pasien yang sembuh dari virus.

Suara.com - Sebanyak 150 Pasien Covid-19 di Indonesia dinyatakan Sembuh, Benarkah Jadi Kebal?

Juru bicara pemerintah untuk Covid-19, Achmad Yurianto, kembali menginformasikan penambahan kasus positif virus corona atau Covid-19 di Indonesia.

Ia menyebut bahwa ada 106 kasus baru, sehingga jumlah total kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 2.092 kasus.

"Kami merekap kembali seluruh data, (dan) prihatin penambahan kasus konfirmadi positif 106 kasus, sehingga totalnya mencapai 2092 kasus konfirmasi positif dengan menggunakan pemeriksaan molekuler," ujar Yurianto di Graha BNPB, Jakarta Timur, Sabtu (4/4/2020).

Dari data tersebut ia menyayangkan masih ada korban meninggal dunia sebanyak 10 orang, sehingga mereka yang berpulang mencapai 191 korban jiwa.

Ilustrasi isolasi atau karantina COVID-19 - (Pixabay/fernandozhiminaicela)
Ilustrasi isolasi atau karantina COVID-19 - (Pixabay/fernandozhiminaicela)

Kabar baiknya, ada penambahan 16 orang yang dinyatakan sembuh dengan 2 kali pemeriksaan negatif. Sehingga jumlah total kesembuhan mencapai 150 orang. Dirjen P2P Kemenkes ini memastikan 150 orang yang sembuh dan boleh pulang ini memiliki imunitas dan kekebalan terhadap virus.

"Kita bersyukur ada 16 saudara kita yang sudah sembuh, dan 2 kali pemeriksaan berturut-turut, total menjadi 150 orang. Kondisi yang sembuh bagus, tidak perlu dikhawatirkan lagi, tidak menularkan penyakit. Kita yakini 150 orang ini punya imunitas dan kekebalan terhadap virus Covid-19," terang Yurianto panjang lebar.

Namun, benarkah mereka yang telah dinyatakan sembuh bisa kebal terhadap virus Corona Covid-19?

Seperti dilansir dari Time, para ahli mengatakan setelah seorang terinfeksi akan muncul respon antibodi tubuh. Sehingga tidak mungkin bahwa pasien yang telah pulih dari COVID-19 dapat terinfeksi ulang segera setelah tertular virus.

Antibodi biasanya diproduksi di tubuh pasien sekitar tujuh hingga 10 hari setelah serangan awal virus, kata Vineet Menachery, seorang ahli virologi di University of Texas Medical Branch.

Sebaliknya, seorang yang dites positif setelah dinyatakan bisa jadi tes terakhir menghasilkan false negative yang artinya bahwa pasien masih terinfeksi.

"Mungkin karena kualitas spesimen yang mereka ambil dan mungkin karena tes itu tidak begitu sensitif," jelas David Hui, seorang ahli pengobatan pernapasan di Universitas Cina Hong Kong yang juga mempelajari wabah SARS.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS