Unicef: Lockdown Sembarangan Dapat Meningkatkan Risiko Kematian Anak

Yasinta Rahmawati

Rabu, 20 Mei 2020 | 09:37 WIB
Unicef: Lockdown Sembarangan Dapat Meningkatkan Risiko Kematian Anak
Ilustrasi anak-anak bermain. (Foto: shutterstock)

Suara.com - 'Lockdown tanpa pandang bulu' adalah cara yang tidak efektif untuk mengendalikan Covid-19 dan dapat berkontribusi pada peningkatan 45 persen dalam angka kematian anak, demikian Unicef memperingatkan.

Menurut Unicef, seperti dilansir dari The Telegraph, risiko anak-anak meninggal akibat malaria, radang paru-paru atau diare di negara-negara berkembang meningkat karena pandemi virus corona.

Dalam sebuah wawancara eksklusif, Dr Stefan Peterson, kepala kesehatan di Unicef, memperingatkan bahwa lockdown menyeluruh bukanlah pilihan yang paling tepat. Lockdown yang diberlakukan pada banyak orang berpendapatan rendah dan menengah bukan cara yang efektif untuk mengendalikan Covid-19 dan bahkan bisa berakibat fatal.

"Tindakan lockdown sembarangan tidak memiliki efek optimal pada virus," katanya kepada The Telegraph. "Jika Anda meminta keluarga untuk tinggal di rumah di satu kamar di daerah kumuh, tanpa makanan atau air, itu tidak akan membatasi penularan virus."

Menurut laporan yang diterbitkan dalam jurnal Lancet Global Health pada hari Rabu, hampir 1,2 juta anak-anak dapat meninggal dalam enam bulan ke depan karena gangguan pada layanan kesehatan dan persediaan makanan yang disebabkan oleh pandemi virus corona.

Ilustrasi anak sedih di pelukan orangtua. (Shutterstock)
Ilustrasi anak sedih di pelukan orangtua. (Shutterstock)

Para peneliti di Sekolah Kesehatan Publik dan Unicef dari Johns Hopkins Bloomberg, menemukan bahwa angka kematian anak dapat naik hingga 45 persen karena gangguan terkait coronavirus, sementara kematian ibu dapat meningkat hampir 39 persen.

Dr Peterson mengatakan angka-angka ini sebagian merupakan cerminan dari pembatasan ketat di banyak dunia yang mencegah orang meninggalkan rumah. Di mana mencegah mereka mengakses layanan perawatan kesehatan yang penting.

Kampanye vaksinasi melawan penyakit termasuk campak juga telah terganggu akibat pandemi virus corona. Setidaknya 117 juta anak di seluruh dunia kemungkinan kehilangan imunisasi rutin tahun ini.

Dr Peterson memperingatkan bahwa tren ini telah menghasilkan pengurangan dalam "pemanfaatan layanan yang efektif". Selain itu, lockdown menimbulkan korban ekonomi yang besar, yang dapat memicu peningkatan kemiskinan dan kekurangan gizi .

baca juga

Penelitian ini melihat konsekuensi dari gangguan di 118 negara berpenghasilan rendah dan menengah, berdasarkan tiga skenario. Dalam skenario terburuk, di mana layanan dikurangi hingga 45 persen dan proporsi anak-anak yang tumbuh sebesar 50 persen, dapat mengakibatkan 1,16 juta tambahan kematian anak dan 57.000 kematian ibu hanya dalam enam bulan.

Ilustrasi anak sakit tengah dirawat di RS. (Foto: FreeDigitalPhotos)
Ilustrasi anak sakit tengah dirawat di RS. (Foto: FreeDigitalPhotos)

Pemodelan memproyeksikan bahwa India akan melihat jumlah terbesar kematian tambahan pada anak di bawah lima tahun dan kematian ibu. Kasus itu diikuti oleh Nigeria. Pakistan, Republik Demokratik Kongo, Tanzania dan Indonesia juga kemungkinan akan terpukul.

Dr Peterson mendesak negara-negara untuk tidak memaksakan lockdown menyeluruh, tetapi lebih fokus pada mengidentifikasi spot tertentu sehingga pembatasan regional yang merusak kesehatan masyarakat dapat dicegah.

Dia khawatir bahwa pertempuran saat ini melawan Covid-19 berubah menjadi "krisis hak-hak anak" dan merampok satu generasi dengan prospek kesehatan, pendidikan, dan ekonomi mereka.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Update Covid-19 Global 20 Mei: Vietnam dan New Zealand Nol Kasus Baru

Update Covid-19 Global 20 Mei: Vietnam dan New Zealand Nol Kasus Baru

Health | Rabu, 20 Mei 2020 | 08:32 WIB

China Dukung Investigasi Independen tentang Virus Corona oleh WHO

China Dukung Investigasi Independen tentang Virus Corona oleh WHO

Health | Rabu, 20 Mei 2020 | 09:00 WIB

Begini Cara Pengobatan Lansia yang Positif Covid-19 di Indonesia

Begini Cara Pengobatan Lansia yang Positif Covid-19 di Indonesia

Health | Rabu, 20 Mei 2020 | 08:25 WIB

Terkini

PHR Zona 4 Perkuat Budaya HSSE, Keselamatan Kerja Jadi Prioritas Operasi Hulu Migas

PHR Zona 4 Perkuat Budaya HSSE, Keselamatan Kerja Jadi Prioritas Operasi Hulu Migas

Sumsel | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:38 WIB

Bukan Klaim! KPK Punya Bukti Kerugian Negara Rp622 Miliar di Kasus Korupsi Kuota Haji

Bukan Klaim! KPK Punya Bukti Kerugian Negara Rp622 Miliar di Kasus Korupsi Kuota Haji

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:25 WIB

Tak Hanya Muara Enim! KPK Temukan Pola Lobi BPK Demi WTP di PALI dan Empat Lawang

Tak Hanya Muara Enim! KPK Temukan Pola Lobi BPK Demi WTP di PALI dan Empat Lawang

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:12 WIB

Kuota Internet Tak Lagi Hangus, Siapa yang Harus Menanggung Beban Biaya dan Kapasitas Jaringan?

Kuota Internet Tak Lagi Hangus, Siapa yang Harus Menanggung Beban Biaya dan Kapasitas Jaringan?

Video | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:00 WIB

Senjata Canggih Tak Cukup Jaga Kedaulatan RI! Ada 3 Hal yang Wajib Diperkuat Prabowo

Senjata Canggih Tak Cukup Jaga Kedaulatan RI! Ada 3 Hal yang Wajib Diperkuat Prabowo

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:54 WIB

Pelabuhan Diminta Seaman Bandara, DPR Dorong Pemisahan Kapal Barang dan Penumpang

Pelabuhan Diminta Seaman Bandara, DPR Dorong Pemisahan Kapal Barang dan Penumpang

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:51 WIB

BRI Sediakan Fasilitas Cicilan 0 Persen Hingga 12 Bulan di AZKO

BRI Sediakan Fasilitas Cicilan 0 Persen Hingga 12 Bulan di AZKO

Bri | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:50 WIB

HUT RI ke-81, Mitra Grab Palembang Rayakan Semangat Gotong Royong Bersama 810 Mitra

HUT RI ke-81, Mitra Grab Palembang Rayakan Semangat Gotong Royong Bersama 810 Mitra

Sumsel | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:50 WIB

Pemkot Palembang Tak Lagi Menanggung 5.502 Guru PPPK, Ini Dampaknya bagi APBD

Pemkot Palembang Tak Lagi Menanggung 5.502 Guru PPPK, Ini Dampaknya bagi APBD

Sumsel | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:49 WIB

Diskon Belanja Hingga 50 Persen di AZKO dari BRI, Cek Syaratnya

Diskon Belanja Hingga 50 Persen di AZKO dari BRI, Cek Syaratnya

Bri | Rabu, 19 Agustus 2026 | 21:35 WIB

×