Ahli: Dibutuhkan Lebih Banyak Penelitian pada Hewan Terkait Virus Corona

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Ahli: Dibutuhkan Lebih Banyak Penelitian pada Hewan Terkait Virus Corona
Penampakan virus corona baru (COVID-19), credit: NIAID-RML

Dengan tidak adanya bukti, badan kesehatan masyarakat di seluruh dunia umumnya meremehkan peran hewan dalam menularkan infeksi.

Suara.com - Sebuah ulasan dalam jurnal Vector-Borne and Zoonotic Disease berpendapat para ilmuwan belum melakukan penelitian yang cukup tentang peran hewan dalam pandemi Covid-19.

Menurut penulis, meski peneliti sekarang secara luas menerima SARS-CoV-2 ditransmisikan ke manusia dari hewan melalui inang hewan perantara, banyak yang masih belum mereka tahu tentang peran hewan dalam kaitannya dengan pandemi.

Sejauh ini, para ilmuwan telah melakukan sedikit riset untuk mengeksplorasi:

  • Sejauh mana hewan dapat tertular virus
  • Hewan mana yang paling rentan terhadap infeksi
  • Apakah hewan dapat menularkan virus satu sama lain atau tidak
  • Apakah hewan dapat menularkan virus ke manusia atau tidak
  • Apa efek virus pada hewan

Dengan tidak adanya bukti ini, badan kesehatan masyarakat di seluruh dunia umumnya meremehkan peran hewan dalam menularkan infeksi.

Ilustrasi kelelawar. [Kelelawar].
Ilustrasi kelelawar. [Kelelawar].

Tiga kemungkinan masalah kritis

Penulis ulasan menyoroti tiga area di mana infeksi hewan dengan SARS-CoV-2 bisa menjadi masalah kritis.

Pertama, mereka menunjukkan bahwa hewan mungkin memainkan peran dalam memperpanjang pandemi dengan menjadi reservoir untuk penularan virus ke manusia.

Dilansir dari Medical News Today, reservoir merupakan manusia, hewan, tumbuhan, tanah atau zat organik yang menjadi tempat tumbuh dan berkembang biak organisme infeksius.

Untuk menentukan peran yang mungkin dimainkan hewan dalam penularan virus corona, para penulis menyarankan untuk mengeksplorasi hewan mana yang lebih mungkin mendapatkan infeksi, periode infektivitas, kemungkinan sumber infeksi, dan sejauh mana hewan dapat menginfeksi manusia.

Kedua, penulis menunjukkan bahwa unggas atau ternak yang terinfeksi dapat memengaruhi ketahanan pangan, baik dengan merusak hewan itu sendiri atau dengan menyebarkan virus kepada petani, penyedia layanan makanan, dan orang yang tinggal di daerah pedesaan.

Ketiga, penulis menunjukkan bahwa anjing pelacak mungkin menjadi kurang efektif jika mereka tertular virus. Ini karena ada laporan anekdotal bahwa virus dapat mengurangi indera penciuman manusia.

Ilustrasi Anjing Frech Bulldog. (pixabay.com/ragnahellberg)
Ilustrasi Anjing Frech Bulldog. (pixabay.com/ragnahellberg)

Dibutuhkan lebih banyak penelitian

Meski tinjauan tersebut berpendapat bahwa ini semua adalah masalah yang mungkin terjadi, penting untuk dicatat sampai para ilmuwan melakukan penelitian lebih lanjut, kita tidak dapat mengetahui apa dampak virus terhadap hewan dan apa dampaknya terhadap manusia.

“Dengan lebih dari 3 juta kasus Covid-19 dan lebih dari seperempat juta kematian di seluruh dunia sejauh ini sejak Januari, sangat penting bahwa kita memahami risiko yang ditimbulkan oleh hewan peliharaan sebagai sumber yang mungkin menginfeksi manusia," kata Dr Stephen Higgs, pemimpin redaksi Vector-Borne and Zoonotic Diseases.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS