alexametrics

Layanan Kesehatan Reproduksi Terganggu, Bidan Hadapi Tantangan Besar

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Layanan Kesehatan Reproduksi Terganggu, Bidan Hadapi Tantangan Besar
Ilustrasi pasangan berkonsultasi dengan dokter (Shutterstock)

Bidan dapat melanjutkan layanan kesehatan reproduksi, termasuk program KB.

Suara.com - Banyak layanan kesehatan terhambat akibat pandemi Covid-19, terutama selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Termasuk layanan kesehatan reproduksi serta membatasi sosialisasi dan penyuluhan KB.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Emi Nurdjasmi, M.Kes, mengatakan bidan menghadapi tantangan besar dalam memberikan layanan kesehatan reproduksi selama masa pandemi, terutama karena perempuan hamil mengalami perubahan kekebalan tubuh sehingga lebih rentan terhadap paparan Covid-19.

"Sebagai tenaga kesehatan paling depan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, bidan memegang peranan penting dalam mendukung kesehatan reproduksi dari aspek membantu menurunkan angka kematian ibu dan bayi hingga memberikan layanan KB," kata Emi, dalam webinar Urgensi Pelayanan KB pada Masa New Normal pada Selasa (9/6/2020).

Menurutnya, di masa new normal seperti ini sangat penting untuk memastikan bidan bisa terus melanjutkan pemberian layanan kesehatan reproduksi, termasuk pemasangan alat kontrasepsi secara aman.

Baca Juga: Sempat Tersendat, BKKBN Harap Layanan KB Kembali Dibuka di Masa New Normal

Ilustrasi pasangan sednag konsultasi program KB (Shutterstock)

Dr. dr. Melania Hidayati, MPH, Assistant Representative UNFPA juga mengemukakan data mengejutkan mengenai dampak Covid-19 terhadap akses alat kontrasepsi.

"Pandemi Covid-19 ini memberikan dampak yang luar biasa terhadap program Family Planning secara global. Estimasi kami, jika lockdown berlangsung 6 bulan, 47 juta perempuan terancam tidak mendapat akses kontrasepsi modern. Selain itu, jika lockdown terjadi 6 bulan dan ada gangguan layanan alat kontrasepsi, diperkirakan ada tambahan 7 juta angka kehamilan tidak direncanakan (KTD)," tuturnya.

Sementara itu, DKT Indonesia, sebagai organisasi KB yang menyumbang CPR 25,2%, mengaku sadar pandemi ini memberikan tantangan bagi peningkatan penggunaan kontrasepsi.

Aditya A. Putra, Head of Strategic Planning DKT Indonesia mengungkapkan ada langkah untuk menghadapi tantangan tersebut:

1. Memastikan pasokan alat kontrasepsi mudah dijangkau dan tersedia di berbagai channel.
2. Meningkatkan komunikasi kepada tenaga kesehatan melalui berbagai kegiatan webinar yang ditujukan bagi tenaga kesehatan.
3. Menyediakan digital platform dan layanan konsultasi KB, Halo DKT, yang dapat diakses melalui WhatsApp 0811-1-326459 atau Telepon Bebas Pulsa 0800-1-326459.
4. Memberikan donasi berupa alat kontrasepsi, produk kesehatan reproduksi dan APD kepada tenaga kesehatan dan masyarakat di Jabodetabek, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Baca Juga: BKKBN Ungkap Alasan Hanya 5 Persen Suami yang Ikut Program KB

Komentar