Ngeri Banget, Malas Gerak Berisiko Kena Kanker Hingga Kematian

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Senin, 22 Juni 2020 | 14:57 WIB
Ngeri Banget, Malas Gerak Berisiko Kena Kanker Hingga Kematian
Ilustrasi malas gerak. (Sumber: Shutterstock)

Suara.com - Kemudahan teknologi membuat banyak orang makin malas gerak. Padahal kondisi itu bisa menimbulkan penyakit mengerikan hingga kematian. Demikian seperti dilansir dari New York Post.

Sebuah studi komprehensif tentang gaya hidup 8.000 orang dewasa telah mengungkapkan bahwa mereka yang menjalani kehidupan sedentari atau malas gerak memiliki risiko kematian akibat kanker sebesar 82 persen lebih tinggi, menurut para peneliti di University of Texas.

Ilustrasi malas gerak. (shutterstock)

“Ini adalah studi pertama yang secara definitif menunjukkan hubungan yang kuat antara malas bergerak dan kematian akibat kanker,” kata Dr. Susan Gilchrist, associate professor di University of Texas MD Anderson Cancer Center dan penulis utama dalam penelitian ini.

Penelitian yang dipublikasikan Kamis di JAMA Oncology, menyimpulkan bahwa orang yang bertukar waktu duduk selama 30 menit dengan aktivitas fisik dapat menurunkan risiko itu.

"Temuan kami menegaskan bahwa penting untuk duduk lebih sedikit dan bergerak lebih banyak," kata Gilchrist dalam sebuah pernyataan kepada CNN.

Bahkan sejumlah kecil gerakan dapat membuat perbedaan positif, kata dia menjelaskan.

“Saya memberi tahu mereka untuk mempertimbangkan berdiri selama 5 menit setiap jam di tempat kerja atau naik tangga alih-alih lift. Ini mungkin kedengarannya tidak banyak, tetapi penelitian ini memberi tahu kita bahwa aktivitas ringan pun memiliki manfaat bertahan hidup kanker," ujar Gilchrist .

Peserta penelitian yang semuanya orang dewasa di atas usia 45, mengenakan alat pelacak, yang disebut accelerometer, selama satu minggu pada waktu antara 2009 dan 2013.

Dari sekitar 8.000 orang yang termasuk, mereka yang terlalu banyak bermalas-malasan memiliki risiko 82 persen lebih tinggi kematian akibat kanker apa pun.

Hal ini berbeda dengan mereka yang paling sedikit duduk, bahkan setelah memperhitungkan usia, jenis kelamin dan masalah kesehatan.

Namun, mereka yang menyisihkan 30 menit untuk olahraga ringan, seperti berjalan mampu mengurangi risiko mereka hingga 8 persen.

Mereka yang melakukan aktivitas moderat, seperti naik sepeda, berkebun atau tenis, juga mengalami penurunan risiko sebesar 31 persen.

"Langkah kami selanjutnya adalah untuk menyelidiki bagaimana perilaku menetap yang secara obyektif mempengaruhi kejadian kanker spesifik lokasi dan jika gender dan ras memainkan peran."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Waspada, Kebanyakan Duduk Bisa Meningkatkan Risiko Kanker

Waspada, Kebanyakan Duduk Bisa Meningkatkan Risiko Kanker

Health | Minggu, 21 Juni 2020 | 06:45 WIB

Pasien Covid-19 Diobati Antibodi Penderita Kanker, 5 Hari Lepas Oksigen?

Pasien Covid-19 Diobati Antibodi Penderita Kanker, 5 Hari Lepas Oksigen?

Tekno | Rabu, 17 Juni 2020 | 16:45 WIB

5 Kebiasaan Makan Sehat untuk Cegah Kanker, Mudah dan Murah!

5 Kebiasaan Makan Sehat untuk Cegah Kanker, Mudah dan Murah!

Health | Selasa, 16 Juni 2020 | 13:28 WIB

Terkini

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 11:09 WIB

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:22 WIB

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 23:08 WIB

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 12:18 WIB

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 10:40 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:59 WIB

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:39 WIB

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:30 WIB