alexametrics

Penderita Hepatitis Tidak Harus Selalu Minum Obat

Vania Rossa
Penderita Hepatitis Tidak Harus Selalu Minum Obat
Ilustrasi hepatitis. (Shutterstocks)

Pasien hepatitis yang diberikan obat harus memenuhi kriteria indikasi.

Suara.com - Hepatitis merupakan infeksi hati karena virus. Di Indonesia, tiga penyebab penyakit hati tertinggi ialah hepatitis B, C, dan NAFL atau nonalcoholic fatty liver disease. Pasien dengan penyakit hati kronis harus dipantau dan kontrol secara teratur.

Meski begitu, tidak semua penderita hepatitis harus mengonsumsi obat antivirus demi mengenyahkan penyakitnya itu.

"Walau obat ada di apotik, tidak semua pasien harus mendapatkan obat antivirus. Pasien yang diberikan obat harus memenuhi kriteria indikasi," kata dokter spesialis penyakit dalam yang merupakan anggota Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Dr. Irsan Hasan, dalam sebuah webinar, Jumat (26/6/2020).

Hal ini berarti ada pasien yang hanya diobservasi oleh dokter karena virus hepatitis di tubuhnya dianggap tidur, dan ia tidak memerlukan pengobatan.

Baca Juga: Sebelas Pasien Corona Covid-19 Pulih dengan Obat Hepatitis C

"Kalau diberi obat, siap-siap antivirus diberikan bertahun-tahun dan ada kemungkinan seumur hidup," kata Irsan.

Adapun indikasi yang mengharuskan pasien mendapatkan pengobatan dan merupakan hasil pemeriksaan dokter, salah satunya jika alanin aminotransferase/ALT normal yang didapat dari tes pengukuran enzim SGPT di dalam darah.

Enzim SGPT merupakan indikator yang sensitif terhadap kerusakan hati. Enzim ini digunakan untuk mengindentifikasi penyakit hati selama lebih dari 50 tahun.

Pada bayi yang terinfeksi hepatitis B, dia berisiko 90 persen menderita hepatitis kronis. Dia akan mengidap hepatitis bertahun-tahun, bahkan sampai meninggal dunia. Sementara bila yang tertular orang dewasa, maka kemungkinannya menjadi kronis sekitar 10 persen.

Hepatitis kronis biasanya baru terdeteksi jika sudah terjadi komplikasi, salah satunya sirosis atau pengerasan hati. Untuk itu, deteksi dini yang bisa dilakukan satu-satunya melalui tes darah.

Baca Juga: Ada Banyak Faktor, Begini Cara Hepatitis B Menular saat Kontak Seksual

"Mau enggak mau tes darah, periksa HbsAg dan Anti HBs. Kalau HbsAg positif berarti dia sakit. Kalau Anti HBs positif berarti dia sudah punya kekebalan," tutur Irsan.

Komentar