Ketahui Fakta Wabah Pes yang sedang Terjadi di China, Bisa Berakibat Fatal!

Yasinta Rahmawati, Rosiana Chozanah

Selasa, 07 Juli 2020 | 16:58 WIB
Ketahui Fakta Wabah Pes yang sedang Terjadi di China, Bisa Berakibat Fatal!
Ilustrasi wabah pes. [Shutterstock]

Suara.com - Saat ini pihak berwenang di daerah otonom di China Utara tengah mengkhawatirkan adanya dugaan bubonic plague atau wabah pes setelah seorang petani terkena wabah itu, Sabtu (4/7/2020).

Pejabat kesehatan di Bayannur, kota di Mongolia Dalam, telah mengeluarkan peringatan tingkat ketiga pada Minggu (5/7/2020), berisi larangan untuk berburu dan memakan hewan liar yang dapat memicu wabah hingga akhir tahun.

Meski kondisinya sudah stabil, pejabat kesehatan belum diketahui bagaimana petani ini bisa terinfeksi.

Wabah pes umumnya disebarkan oleh tikus. Apabila tidak segera diobati, kondisi penderita bisa fatal.

Gejalanya termasuk demam, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit kepala, kedinginan dan kelemahan. Umumnya pengobatan menggunakan antibiotik.

Penyakit Pasien ini disebabkan oleh bakteri Yaserina peptis, dan yang terinfeksi dapat mengembangkan gejala seperti flu, dari satu hingga tujuh hari.

Ilustrasi tikus bambu China. (Photo by Brett Jordan on Unsplash)
Ilustrasi tikus. (Photo by Brett Jordan on Unsplash)

Bakteri dapat masuk melalui gigitan kutu, kemudian melakukan perjalanan ke kelenjar getah bening. Ini dapat menyebabkan kelenjar pecah serta bengkak.

Untuk mendiagnosis, dokter dapat melakukan tes pada darah, dahak, atau cairan di kelenjar getah bening untuk mendeteksi bakteri pada pasien.

Dilansir The Health Site, penyakit ini pernah menyebabkan wabah Black Death pada abad ke-14 di Eropa, Asia, dan Afrika, menyebabkan 50 juta kasus kematian.

baca juga

Seperti negara lain, China juga rentan dengan infeksi bakteri. Pada 2009 hingga 2018 tercatat ada 26 kasus pes, dengan 11 kematian.

Di tengah wabah pes di daerah yang memiliki kemungkinan besar untuk terjadi, masyarakat diimbau untuk tidak menangani hewan mati.

Antibiotik seperti streptomosin, gentamisin, dan doksisiklin telah terbukti dapat mengobati wabah. Apabila dibiarkan tanpa pengobatan, penyakit pes mengakibatkan kematian dari 30% hingga 90% pada orang yang terinfeksi.

Antara 2010 hingga 2015, telah tercatat 3248 kasus di seluruh dunia dan 584 kematian terkait wabah pes. Kasus tertinggi dilaporkan di Republik Demokratik Kongo, Madagaskar dan Peru. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ketahui Fakta Bubonic Plague, Penyakit yang Dijuluki Kematian Hitam

Ketahui Fakta Bubonic Plague, Penyakit yang Dijuluki Kematian Hitam

Health | Selasa, 07 Juli 2020 | 15:33 WIB

Petani Mogolia Kena Penyakit Pes, Pemerintah China Langsung Buat Peringatan

Petani Mogolia Kena Penyakit Pes, Pemerintah China Langsung Buat Peringatan

Health | Selasa, 07 Juli 2020 | 15:07 WIB

China Siaga Tiga Wabah Pes dari Mongolia, Begini Gejala Infeksinya!

China Siaga Tiga Wabah Pes dari Mongolia, Begini Gejala Infeksinya!

Health | Selasa, 07 Juli 2020 | 09:17 WIB

Terkini

Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja

Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 00:19 WIB

Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet

Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet

Bola | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 23:35 WIB

Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah

Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 23:10 WIB

Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik

Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:35 WIB

IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung

IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:27 WIB

5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau

5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:31 WIB

Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026

Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026

Otomotif | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:15 WIB

Kredit Macet Hantui Industri Pinjol

Kredit Macet Hantui Industri Pinjol

Bisnis | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:05 WIB

Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru

Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru

Jawa Tengah | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:00 WIB

Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung

Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung

Lampung | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:57 WIB

×