Meningkat Drastis Selama Pandemi Covid-19, Ini Bahaya Sindrom Patah Hati

Ririn Indriani, Dini Afrianti Efendi

Sabtu, 11 Juli 2020 | 17:27 WIB
Meningkat Drastis Selama Pandemi Covid-19, Ini Bahaya Sindrom Patah Hati
Ilustrasi patah hati (shutterstock)

Suara.com - Jika dibandingkan sebelum dan setelah pandemi Covid-19, Ahli Jantung Ohio menemukan bahwa jumlah pasien yang mengalami Kadiomiopati Takotsubo atau dikenal dengan sindrom patah hati meningkat 4 sampai 5 kali lipat.

Diwartakan Live Science, Sabtu (11/7/2020) sindrom patah hati atau broken heart syndrome dikenal sebagai keadaan emosional yang ekstrem.

Keadaan tersebut bisa membuat otot jantung tiba-tiba melemah.

Gejala yang menandakan keadaan ini berupa serangan jantung yang bisa terjadi dengan tiba-tiba, nyeri dada dan sesak napas.

Penyebab keadaan ini memang tidak diketahui, tapi diperkirakan terjadi karena peristiwa yang membuat stres secara fisik dan pikiran, yang membuat tubuh melepaskan hormon stres beberapa saat dan membuat jantung tidak bisa memompa darah secara normal.

"Berbagai tingkat stres terjadi dalam kehidupan manusia di seluruh negara dan dunia. Orang tidak hanya khawatir pada diri mereka dan keluarga jatuh sakit. Tapi juga mereka berhadapan dengan masalah ekonomi dan emosional, masalah masyarakat hingga berpotensi mengalami kesepian," ujar Peneliti Dr. Ankur Kalra, Ahli Jantung di Klinik Cleveland Kardiologi Invansif dan Intervensional dan Kedokteran Kardiovaskular.

Dalam penelitiannya Kalra dan timnya menganalisis sebanyak 258 data pasien yang datang ke klinik tempatnya bekerja dan Akron General Klinik Cleveland.

Mereka yang datang dengan sindrom koroner akut atau ACS pada 1 Maret hingga 30 April.

Peneliti kemudian membandingan data dengan empat kelompok kontrol pasien ACS yang datang ke klinik sebelum pademi, dari Maret hingga akhir April 2018, awal Januari hingga akhir Februari 2019, sejak awal Maret hingga akhir April 2019, dan awal Januari hingga akhir Februari 2020.

baca juga

Peneliti kemudian menemukan 7,8 persen pasien yang ACS didiagnosis sindrom patah hati selama pandemi. Sedangkan angka sebelumnya hanya sebesar 1,5 persen hingga 1,8 persen sebelum pandemi.

Sebagian besar pasien yang mengalami ini tidak sepenuhnya mengalami kerusakan parah. Namun yang perlu diwaspadai kondisi tersebut apabila berlangsung lama bisa berakibat fatal.

"Sementara itu pandemi terus meningkat, perawatan selama masa sulit ini sangat penting untuk meningkatkan kesehatan jantung secara keseluruhan," ujar Peneliti Senior Dr. Grant Reed, Direktur Program infark MiokardST-elevasi Cleveland Clinic.

"Bagi mereka yang diliputi stres penting untuk menjangkau penyedia layanan kesehatan," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

UNICEF: Pandemi Covid-19 dapat Memperberat Masalah Kesehatan Jiwa Anak

UNICEF: Pandemi Covid-19 dapat Memperberat Masalah Kesehatan Jiwa Anak

Health | Jum'at, 10 Juli 2020 | 17:28 WIB

Studi: Pandemi Virus Corona Meningkatkan Sindrom Patah Hati

Studi: Pandemi Virus Corona Meningkatkan Sindrom Patah Hati

Health | Jum'at, 10 Juli 2020 | 16:31 WIB

Dibandingkan Kasus Flu Burung, Pandemi Covid-19 Diwarnai Lebih Banyak Hoaks

Dibandingkan Kasus Flu Burung, Pandemi Covid-19 Diwarnai Lebih Banyak Hoaks

Health | Jum'at, 10 Juli 2020 | 13:18 WIB

Terkini

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:14 WIB

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:45 WIB

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB

Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea

Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 22:00 WIB

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:32 WIB