Perhatikan, Begini Cara Anak Meniru Emosi Orangtua

Risna Halidi | Dini Afrianti Efendi | Suara.com

Selasa, 14 Juli 2020 | 19:43 WIB
Perhatikan, Begini Cara Anak Meniru Emosi Orangtua
Orangtua dan anak (Shutterstock)

Suara.com - Anak adalah replika orangtua, itulah mengapa anak kerap disebut sebagai peniru ulung. Apa saja tindak tanduk orangtua, anak akan mencontohnya. Termasuk juga dalam hal perkataan.

Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Bhayangkara Jakarta Wahyu Aulizalsini, M.Psi menamakan hal tersebut dengan bonding emosi yang harus dibangun orangtua dengan anak.

"Perkembangan harus distimulus dan harus berubah. Perkembangan awal menentukan perkembangan selanjutnya. Jika diawal tidak dilakukan maka perkembangan selanjutnya akan bermasalah," ujar Wahyu dalam siaran pers yang diterima Suara.com, Selasa (14/7/2020).

Ia mengatakan sadar atau tidak, orangtua sering kali membentuk emosi dan sebuah ketakutan pada anak.

Apalagi saat orangtua lepas kontrol, segala cercaan, celaan dan stigma negatif bahkan datang sendiri dari orangtua. "Karena jika anak di ajar dengan celaan maka anak akan belajar mencaci maki," tuturnya.

Balik lagi anak sebagai peniru, maka jika orangtua bisa memunculkan emosi yang baik dan positif, akan anak akan mengikutinya.

Hal itu bakal jadi dasar anak di kemudian hari, sampai akhirnya anak bisa menentukan baik atau buruk. "Orang tua perlu meminimalisir bahkan menghilangkan perkataan atau ucapan yang dapat memengaruhi kondisi emosi anak," jelasnya.

Contoh perkataan 'Jangan takut, kok segitu aja gak bisa', jadi contoh stimulasi yang salah dari orangtua yang dapat memicu emosi anak.

Sehingga emosi anak berpengaruh dan anak malah lebih takut untuk berbuat dan tidak berani mencoba.

Wahyu juga mencatat pentingnya bagi anak untuk diajari kemandirian sesuai usia, misalnya usia 18 hingga 24 bulan anak sudah harus bisa makan sendiri. Perkembangan anak harus berjalan sesuai usianya. 

Perkembangan emosi dan perkembangan kognitif harus sama-sama di stimulus, kita tidak bisa hanya memperhatikan perkembangan kognitif anak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kisah Warga Papua: Langgar Protokol Kesehatan, Siap-siap Sapu Jalan!

Kisah Warga Papua: Langgar Protokol Kesehatan, Siap-siap Sapu Jalan!

Health | Selasa, 14 Juli 2020 | 19:33 WIB

Vanessa Angel Namai Anaknya Gala Sky Andriansyah, Artinya?

Vanessa Angel Namai Anaknya Gala Sky Andriansyah, Artinya?

Entertainment | Selasa, 14 Juli 2020 | 19:24 WIB

Seorang Perempuan Lahirkan Anak Kembar dari Dua Rahim Berbeda, Kok Bisa?

Seorang Perempuan Lahirkan Anak Kembar dari Dua Rahim Berbeda, Kok Bisa?

Jawa Tengah | Selasa, 14 Juli 2020 | 18:35 WIB

Terkini

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 19:57 WIB

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 13:21 WIB

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:12 WIB

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 10:42 WIB

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

Health | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:55 WIB