alexametrics

Perhatikan, Moms! Pola Makan Bayi Pengaruhi Kesehatan Jangka Panjang, lho

Rima Sekarani Imamun Nissa | Rosiana Chozanah
Perhatikan, Moms! Pola Makan Bayi Pengaruhi Kesehatan Jangka Panjang, lho
ilustrasi makanan bayi [shutterstock]

Para ahli kembali membuat panduan makan untuk bayi, dari lahir hingga usia 2 tahun.

Suara.com - Untuk pertama kalinya, para ahli yang melapor ke Departemen Kesehatan & Layanan Kemanusiaan AS dan Departemen Pertanian AS tentang bagaimana pola makan memengaruhi kesehatan jangka panjang, serta menunjukkan informasi baru tentang menyusui bayi sejak lahir hingga usia 2 tahun.

Laporan itu juga menegaskan pola makan sehat dari lahir hingga 24 bulan mendukung pertumbuhan dan perkembangan selama masa bayi, kanak-anak, remaja, hingga dewasa.

Para ahli juga menyatakan 1.000 hari pertama kehidupan tidak hanya berkontribusi pada kesehatan jangka panjang tetapi juga membantu membentuk preferensi rasa dan pilihan makanan.

"Paparan nutrisi kehidupan awal telah muncul sebagai faktor risiko etiologis (penyebab penyakit) yang terkait dengan penyakit kronis di kemudian hari," kata ahli, dilansir Fox News.

Berikut adalah enam poin utama yang dicatat oleh Dietary Guidelines Advisory Committee 2020 terkait dengan kebiasaan makan bayi:

Baca Juga: Enggan Menyusahkan Keluarga, Ketiga Anak Omas Ingin Hidup Mandiri

Ilustrasi bayi makan yogurt. (Shutterstock)
Ilustrasi bayi makan (Shutterstock)

1. Sama sekali tidak ada tambahan gula untuk bayi

"Bayi harus menghindari makanan dan minuman dengan tambahan gula selama dua tahun pertama kehidupannya. Energi dalam produk-produk tersebut kemungkinan akan menggantikan energi dari makanan padat nutrisi, meningkatkan risiko kekurangan gizi," kata ahli.

Para ahli membuat hubungan antara konsumsi minuman olahan yang dimaniskan dengan kelebihan berat badan atau obesitas.

Mereka mengatakan hampir 70 persen gula tambahan berasal dari produk-produk seperti minuman manis, makanan penutup, makanan ringan manis dan sereal sarapan.

2. ASI lebih baik

Baca Juga: KPAI: Kasus Kekerasan pada Anak Meningkat Sejak PSBB Dilonggarkan

"Bukti terkuat yang ditemukan adalah mengonsumsi ASI mengurangi risiko obesitas, diabetes tipe 1, dan asma dibandingkan dengan tidak pernah disusui," jelas ahli.

Komentar