Studi: Konsumsi Kebanyakan Nasi Tingkatkan Risiko Penyakit Kardiovaskular

Rauhanda Riyantama | Fita Nofiana | Suara.com

Senin, 10 Agustus 2020 | 14:28 WIB
Studi: Konsumsi Kebanyakan Nasi Tingkatkan Risiko Penyakit Kardiovaskular
Ilustrasi makan nasi. (Shutterstock)

Suara.com - Makan terlalu banyak nasi disebut terkait dengan penyakit kronis, khusunya penyakit kardiovaskular. Hal ini disebabkan karena nasi adalah salah satu makanan yang paling mungkin menyerap arsenik anorganik dari air dan tanah tempat ia ditanam.

Melansir dari BabaMail arsenik anorganik adalah salah satu unsur beracun yang jika dikonsumsi jangka panjang bisa menyebabkan kanker, diabetes tipe 2, dan masalah kardiovaskular.

Sebuah penemuan studi baru yang disusun oleh University of Manchester dan The University of Salford menegaskan bahaya kebanyakan makan nasi. Studi ini telah diterbitkan dalam jurnal Science of the Total Environment.

"Jenis studi yang dilakukan ini adalah studi ekologi, memang memiliki banyak keterbatasan tetapi relatif baik dalam menentukan apakah ada hubungan yang masuk akal antara peningkatan konsumsi beras pembawa arsenik anorganik dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular," kata Profesor David Polya, dari The University of Manchester pada Express.

"Studi tersebut menunjukkan bahwa 25 persen konsumen beras tertinggi di Inggris dan Wales mungkin memiliki risiko kematian kardiovaskular yang lebih besar karena paparan arsenik anorganik dibandingkan dengan 25 persen konsumen beras terendah," tambahnya.

Ilustrasi nasi. [Shutterstock]
Ilustrasi nasi. [Shutterstock]

Melansir dari Express, secara global diperkirakan arsenik dalam beras menjadi penyebab lebih dari 50.000 kematian dini yang dapat dihindari dalam setahun. Arsenik terjadi secara alami di dalam tanah. Saat padi ditanam dalam kondisi banjir, arsenik dikeluarkan dari tanah dan masuk ke dalam air yang akhirnya ini diserap oleh tanaman padi.

Para peneliti menyarankan agar orang-orang lebih hati-hati dalam memilih varietas padi yang memiliki kadar arsenik rendah.

Menurur Profesor Polya, peningkatan risiko penyakit akibat nasi dengan kandungan arsenik anorganik bisa sampai enam persen. “Peningkatan risiko mungkin juga mencerminkan sebagian kombinasi kerentanan, perilaku, dan perlakuan masyarakat dengan pola makan beras yang relatif tinggi," tambahnya,

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cara Memasak Nasi Agar Pulen dan Matang Sempurna, Mau Coba?

Cara Memasak Nasi Agar Pulen dan Matang Sempurna, Mau Coba?

Jabar | Jum'at, 07 Agustus 2020 | 10:42 WIB

Tak Hanya Mental, Meditasi Juga Baik untuk Kesehatan Jantung

Tak Hanya Mental, Meditasi Juga Baik untuk Kesehatan Jantung

Health | Selasa, 04 Agustus 2020 | 12:59 WIB

Dibungkus Mirip Es di Plastik, Warganet Bingung Cara Makan Nasi Kucing Ini

Dibungkus Mirip Es di Plastik, Warganet Bingung Cara Makan Nasi Kucing Ini

Lifestyle | Kamis, 30 Juli 2020 | 11:25 WIB

Terkini

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 19:57 WIB

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 13:21 WIB

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:12 WIB

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 10:42 WIB