Bukan Manusia, Rusia Pilih Kembangkan Vaksin Covid-19 Pertama untuk Kucing

Bimo Aria Fundrika | Dini Afrianti Efendi | Suara.com

Selasa, 18 Agustus 2020 | 09:50 WIB
Bukan Manusia, Rusia Pilih Kembangkan Vaksin Covid-19 Pertama untuk Kucing
Vaksin Covid-19 yang dikembangkan laboratorium Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gameleya, Moskow, Rusia, 6 Agustus 2020. [Handout / Russian Direct Investment Fund / AFP]

Suara.com - Alih-alih membuat vaksin untuk manusia, Rusia justru lebih pilih mengembangkan vaksin Covid-19 untuk kucing, dan menjadikan mereka yang pertama mengembangkannya di dunia.

Dilansir dari The Sun, Selasa (18/8/2020) Badan Pengawas Hewan Negara Rusia, Rosselkhoznadzor mengungkap sedang mengerjakan vaksin untuk hewan dan akan segera diuji coba beberapa bulan kemudian.

"Kami sedang membuat vaksin untuk hewan, agar bisa melawan infeksi virus corona baru atau Covid-19. Vaksin ini diperlukan khususnya hewan cerpelai, karena mereka bisa dengan cepat menularkan virus satu sama lain," ujar Sergey Dankvert Kepala Rosselkhoznadzor.

Hal ini dilakukan menyusul laporan menunjukkan banyaknya kucing lokal yang terserang Covid-19 di Moskow dan Tyumen. 

Vaksin corona (AFP)
Vaksin corona (AFP)

Bahkan untuk cerpelai yang terinfeksi virus menyebabkan kematian, dan bisa menularkannya kembali ke manusia, berdasarkan temuan di Belanda.Infeksi lintas spesies juga terjadi setelah dua peternakan cerpelai dikarantina setelah ditemukan hewan tersebut tertular virus. Ini karena Rusia memiliki setidaknya 100 peternakan hewan berbulu halus ini.

“Orang-orang juga ingin memvaksin hewan peliharaannya, seperti kucing yang terinfeksi virus corona,” terang Dankvert.

Rencana ini disambut baik oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, yang terkenal sebagai sosok pecinta hewan. Sementara itu pengembangan vaksin Covid-19 untuk manusia yang dikembangkan Rusia memang memicu perdebatan, termasuk ternyata vaksin tidak bisa digunakan untuk mereka yang berusia di di bawah 18 tahun, dan usia yang lebih dari 60 tahun. Ini karena vaksin belum dilakukan uji coba pada kelompok usia itu.

"Kerja tambahan ekstra tetap dibutuhkan untuk pengembangan vaksin ini," jelas Profesor Alexander Ginzburg, selaku Ilmuwan yang mengembangkan vaksin bernama Sputnik V itu.

Walaupun pada akhirnya, vaksin akan segera diberikan dan disuntikkan secara massal di Rusia satu bulan yang akan datang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Susul Rusia, China Patenkan Vaksin Covid-19

Susul Rusia, China Patenkan Vaksin Covid-19

Health | Selasa, 18 Agustus 2020 | 07:40 WIB

Setelah Rusia, China Berikan Paten Vaksin CanSino Masuki Uji Fase III

Setelah Rusia, China Berikan Paten Vaksin CanSino Masuki Uji Fase III

Tekno | Selasa, 18 Agustus 2020 | 06:00 WIB

Amerika Kembangkan Virus Corona Khusus untuk Menginfeksi Manusia

Amerika Kembangkan Virus Corona Khusus untuk Menginfeksi Manusia

Tekno | Senin, 17 Agustus 2020 | 20:13 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB