Ilmuwan Ciptakan Alat Tes Covid-19 Portabel, Hasilnya Bisa Muncul di Ponsel

Angga Roni Priambodo | Rosiana Chozanah | Suara.com

Selasa, 08 September 2020 | 16:46 WIB
Ilmuwan Ciptakan Alat Tes Covid-19 Portabel, Hasilnya Bisa Muncul di Ponsel
Alat pengujian portabel (YouTube/NewsAtIllinois)

Suara.com - Selain vaksin dan obat, ternyata para ilmuwan juga mengembangkan alat pendeteksi atau tes Covid-19 untuk mempermudah akses masyarakat.

Kali ini, ilmuwan dari University of Illinois Urbana-Champaign telah merancang sebuah tes Covid-19 portabel yang hasilnya dapat muncul di smartphone.

Mereka mengklaim alat ini dapat memperluas akses pengujian terjangkau di wilayah dengan peralatan pengujian virus corona berbasis laboratorium terbatas.

Dalam penelitian mereka yang terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences, tim Illinois menjelaskan bagaimana mereka mengembangkan tes prototipe.

Menurut makalah mereka, dilansir Medical News Today, tes tersebut dapat mendeteksi virus SARS-CoV-2 dalam waktu kurang dari 40 menit menggunakan alat pembaca genggam, catridge cetak 3D, dan smartphone.

komponen cartridge (YouTube/NewsAtIllinois)
komponen cartridge (YouTube/NewsAtIllinois)

Dikenal sebagai loop-mediated isothermal amplification (LAMP), para ilmuwan mengembangkan metode pengujian ini 20 tahun lalu dan telah menggunakannya untuk mendeteksi DNA pada tuberkulosis dan malaria.

Baru-baru ini, para ilmuwan mengembangkan RT-LAMP (reverse transcription-LAMP) untuk mendeteksi RNA pada virus, seperti HIV.

Tes ini bekerja dengan memanaskan sampel hingga 65 derajat Celsius, yang akan menonaktifkan virus yang ada. Peneliti kemudian membongkar virus dan mendeteksi urutan genetik yang mengidentifikasi SARS-CoV-2.

Batasan utama metode ini adalah diperlukannya pengembangan kompleks dari empat hingga enam primer yang menargetkan enam hingga delapan wilayah berbeda dari materi genetik virus, dibandingkan dengan dua primer untuk uji RT-PCR, metode pengujian virus corona yang kita jumpai sekarang ini.

Laporan menunjukkan RT-LAMP kurang sensitif dibandingkan tes PCR tradisional dan tidak dapat mendeteksi virus yang ada pada tingkat rendah.

Komponen pembaca sampel (YouTube/NewsAtIllinois)
Komponen pembaca sampel (YouTube/NewsAtIllinois)

Terlepas dari keterbatasan ini, peneliti menggunakan metode RT-LAMP karena tidak memerlukan thermocyclers komersial. Thermocyclers memperkuat sampel RNA dan DNA selama teknik PCR.

Cara kerja alat tes

Mereka mendemonstrasikan kelangsungan sistem diagnostik ini dengan menguji 20 tes swab, yang hasilnya dapat mendeteksi 10 di antara positif virus corona.

Kemudian, peneliti menempatkan sampel dalam larutan. Lalu, mereka melisiskan, atau diinkubasi, sebagian sampel pada suhu 95 derajat Celcius selama satu menit.

Setelah itu, mereka memasukkan sampel dan reagen RT-LAMP dalam jarum suntik satu mililiter (ml) serta 5 ml dan menyuntikkan komponen ke dalam cartridge mikrofluida cetak 3D.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jalani Tes Kesehatan, Gibran Rakabuming Minta Doa

Jalani Tes Kesehatan, Gibran Rakabuming Minta Doa

Jawa Tengah | Selasa, 08 September 2020 | 16:23 WIB

Buntut Dua Bapaslon Agam Positif Corona, Puluhan Wartawan Lakukan Tes Swab

Buntut Dua Bapaslon Agam Positif Corona, Puluhan Wartawan Lakukan Tes Swab

News | Selasa, 08 September 2020 | 15:26 WIB

Dua Pedagang Positif Corona, Dinkes Tes Swab Massal di Pasar Hewan Boyolali

Dua Pedagang Positif Corona, Dinkes Tes Swab Massal di Pasar Hewan Boyolali

Jawa Tengah | Selasa, 08 September 2020 | 14:49 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya

Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya

Health | Rabu, 01 April 2026 | 10:55 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB