alexametrics

Ngilu, Dokter Berhasil Angkat Gumpalan Rambut Seberat 7 kg dari Perut Gadis

Bimo Aria Fundrika
Ngilu, Dokter Berhasil Angkat Gumpalan Rambut Seberat 7 kg dari Perut Gadis
Ilustrasi rambut. (Shutterstock)

Gadis berusia 17 tahun itu berakhir dengan rambut di perutnya seberat tujuh kilogram atau setara berat seperti bayi berusia lima bulan.

Suara.com - Seorang gadis remaja mengunyah rambutnya selama bertahun-tahun sehingga akhirnya dokter harus mengoperasi untuk menghilangkan bola rambut besar-besaran.

Gadis berusia 17 tahun itu berakhir dengan rambut di perutnya seberat tujuh kilogram atau setara berat seperti bayi berusia lima bulan.

Setelah USG, benjolan itu awalnya diduga merupakan tumor kanker. Tetapi kemudian dokter berhasil mengangkat gumpalan rambut tersebut selama operasi enam jam.

Video menunjukkan dokter di distrik Bokaro Jharkhand di India mengoperasi gadis itu pada 31 Agustus. Sebuah tim dipimpin oleh Dr GN Sahu melakukan operasi itu rumah sakit swasta di Bokaro.

Baca Juga: Jijik, Pria Ini Taburkan Rambut Kemaluan Di Atas Makanan Usai Tak Mau Bayar

Ilustrasi rambut rontok. (Sumber: Shutterstock)
Ilustrasi rambut . (Sumber: Shutterstock)

Dr Sahu mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya dalam 40 tahun karirnya dia melihat begitu banyak rambut di perut.

Dokter menemukan gadis itu punya kebiasaan mengunyah rambutnya dan perlahan ada benjolan yang menumpuk di dalam perut dan membalut seluruh perut.

Sumber mengatakan dia stabil dan akan keluar dari rumah sakit setelah observasi awal.

Dilansir dari Live Science, orang yang menelan rambutnya sendiri secara kompulsif dikatakan memiliki gangguan kejiwaan yang disebut trichophagia.

Kondisi ini terkait dengan gangguan yang sedikit lebih umum di mana orang-orang memiliki keinginan yang tak tertahankan untuk mencabut rambut, yang disebut trikotilomania atau gangguan mencabut rambut.

Baca Juga: Studi: Polusi Udara Bisa Sebabkan Kerontokan Rambut

Gangguan mencabut rambut tercantum dalam manual resmi yang digunakan psikiater untuk mendiagnosis penyakit mental, kata Dr. Katharine Phillips, seorang profesor psikiatri dan perilaku manusia di Alpert Medical School di Brown University.

Komentar