Stres Bisa Picu Berbagai Masalah Jantung, Termasuk Sindrom Patah Hati

Rima Sekarani Imamun Nissa, Fita Nofiana

Minggu, 18 Oktober 2020 | 19:20 WIB
Stres Bisa Picu Berbagai Masalah Jantung, Termasuk Sindrom Patah Hati
Perempuan serangan jantung. (Shutterstock)

Suara.com - Stres memang tidak secara langsung menyebabkan serangan jantung. Namun, stres nyatanya bisa memengaruhi kesehatan jantung.

Melansir dari Insider, stres kronis dapat menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi yang bisa menjadi faktor risiko utama serangan jantung.

Menurut sebuah studi yang diterbitkan pada Current Hypertension Reports, stres kronis berkontribusi pada perkembangan hipertensi. Sementara 70 persen orang yang mengalami serangan jantung sebelumya menderita hipertensi.

Tak hanya itu, stres yang berkepanjangan juga dapat berdampak negatif pada kesehatan jantung secara keseluruhan. Sebagai contoh, stres karena gangguan kecemasan sering kali dikaitkan dengan penyakit arteri koroner, gagal jantung, dan gangguan irama jantung seperti takikardia.

Ilustrasi perempuan merasa stres dan depresi (Shutterstock)
Ilustrasi perempuan merasa stres (Shutterstock)

Dampak stres pada jantung paling parah adalah menyebabkan takotsubo cardiomyopathy. Kondisi ini sering kali dikenal dengan sindrom patah hati.

"Sindrom patah hati terasa seperti serangan jantung dengan gejala termasuk nyeri dada dan sesak napas, tetapi ini adalah kondisi yang berbeda sama sekali," kata Lauren Gilstrap, MD, ahli jantung di Dartmouth Hitchcock Medical Center.

Gejala tersebut muncul tiba-tiba dan dipicu oleh peristiwa emosional yang menegangkan seperti kematian mendadak orang yang dicintai dan lain sebagainya.

Bedanya, serangan jantung terjadi ketika arteri ke jantung tersumbat, sementara sindrom patah hati tidak memiliki penyumbatan yang mendasari. Penyebab pastinya tidak diketahui, tetapi diperkirakan terkait dengan lonjakan hormon yang tiba-tiba dari respons melawan tubuh.

Ilustrasi pasangan konflik dan mengalami stres. (Shutterstock)
Ilustrasi pasangan konflik dan mengalami stres. (Shutterstock)

"Sindrom patah hati adalah fenomena yang secara fundamental berbeda dari serangan jantung," kata Gilstrap.

baca juga

"Arteri benar-benar baik-baik saja dan suplai darah benar-benar normal, tapi tiba-tiba jantung tidak berdesakan," tambahnya.

Sindrom patah hati paling sering terjadi pada perempuan berusia 58 hingga 75 tahun. Satu penelitian menemukan bahwa perempuan mengalami tingkat stres emosional yang lebih tinggi.

Sekitar 5 persen perempuan yang mengira mereka mengalami serangan jantung sebenarnya mengalami kardiomiopati yang dipicu oleh stres. Namun, serangan jantung sebenarnya lebih umum daripada sindrom patah hati.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Waspada! Anak Perempuan Rentan Depresi Selama Pandemi Covid-19

Waspada! Anak Perempuan Rentan Depresi Selama Pandemi Covid-19

Sumsel | Minggu, 18 Oktober 2020 | 14:33 WIB

Aktivitas Bermanfaat yang Bisa Dilakukan Selama Pandemi di Rumah

Aktivitas Bermanfaat yang Bisa Dilakukan Selama Pandemi di Rumah

Video | Minggu, 18 Oktober 2020 | 14:05 WIB

Cacat Jantung Bawaan Ternyata Tidak Memengaruhi Keparahan Covid-19!

Cacat Jantung Bawaan Ternyata Tidak Memengaruhi Keparahan Covid-19!

Health | Minggu, 18 Oktober 2020 | 12:31 WIB

Terkini

Tim SAR dan K-9 Dikerahkan Bantu Pencarian Korban Gempa NTT

Tim SAR dan K-9 Dikerahkan Bantu Pencarian Korban Gempa NTT

Bali | Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:48 WIB

Gempa M 7,7 Guncang NTT, BNPB Minta 6 Kabupaten Segera Tetapkan Status Darurat

Gempa M 7,7 Guncang NTT, BNPB Minta 6 Kabupaten Segera Tetapkan Status Darurat

News | Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:46 WIB

Pergeseran Tragedi dalam Novel Mary Shelley dan Film Frankenstein (2025)

Pergeseran Tragedi dalam Novel Mary Shelley dan Film Frankenstein (2025)

Your Say | Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:45 WIB

1.725 Paket Sembako Disiapkan untuk Masyarakat Terdampak Bencana di NTT

1.725 Paket Sembako Disiapkan untuk Masyarakat Terdampak Bencana di NTT

Sumut | Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:42 WIB

9 Rekomendasi Facial Wash untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas

9 Rekomendasi Facial Wash untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas

Lifestyle | Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:35 WIB

Bobby Nasution Tegur Pejabat Pematangsiantar Pakai Mobil Dinas di Hari Libur

Bobby Nasution Tegur Pejabat Pematangsiantar Pakai Mobil Dinas di Hari Libur

Sumut | Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:33 WIB

5 Rekomendasi Day Cream Lokal dengan SPF untuk Melindungi Kulit Wajah

5 Rekomendasi Day Cream Lokal dengan SPF untuk Melindungi Kulit Wajah

Your Say | Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:30 WIB

BRI Peduli Tanggap Bencana Gerak Cepat Bantu Warga Terdampak Gempa Bumi Flores

BRI Peduli Tanggap Bencana Gerak Cepat Bantu Warga Terdampak Gempa Bumi Flores

Bisnis | Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:28 WIB

Pemprov NTT Tetapkan Status Tanggap Darurat Gempa Selama 14 Hari

Pemprov NTT Tetapkan Status Tanggap Darurat Gempa Selama 14 Hari

Bali | Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:22 WIB

Ambulans Udara hingga Dokter Terbang: Salah Kaprah Pemerintah Sikapi Masalah

Ambulans Udara hingga Dokter Terbang: Salah Kaprah Pemerintah Sikapi Masalah

Your Say | Minggu, 16 Agustus 2026 | 12:20 WIB

×