alexametrics

Covid-19 Memperparah Sakit Jantung Tanpa Menginfeksi, Kok Bisa?

M. Reza Sulaiman | Dini Afrianti Efendi
Covid-19 Memperparah Sakit Jantung Tanpa Menginfeksi, Kok Bisa?
Ilustrasi penyakit jantung. (Shutterstock)

Kondisi pasien jantung bisa memburuk di tengah pandemi, meskipun tidak terinfeksi Covid-19. Kenapa?

Suara.com - Tidak adanya akses pelayanan kesehatan penyakit kardiovaskular atau jantung saat pandemi Covid-19, membuat tingkat kesakitan atau keparahan penyakit pasien akan meningkat.

Hal ini diungkap penulis jurnal Risk Management and Healthcare Policy Dr. dr. Anwar Santoso, SpJP(K), FIHA., yang mengatakan tertundanya pengobatan pasien hanya membuat sakit jantung semakin memburuk, meski tidak tertular Covid-19.

"Tertundanya diagnosis yang berakibat pada peningkatan stadium penyakit, terganggunya proses terapi (pengobatan, rehabilitasi, perawatan paliatif); dan peningkatan faktor-faktor risiko perilaku seperti fisik kurang aktif," ujar Dr. Anwar dalam acara Webinar Pfizer, Sabtu (17/10/2020).

Meski banyak pengobatan terbaru yang ditemukan untuk mengobati salah satu penyakit tidak menular (PTM), Dokter yang juga dewan penasehat dan dewan etik Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) ini melihat masih saja penyakit jantung jadi penyebab utama kematian terbanyak di seluruh dunia.

Baca Juga: Perawatan Baby Spa dengan Menerapkan Protokol Kesehatan

"Karena pandemi Covid-19, di Indonesia perlu ada upaya untuk terus melanjutkan penyediaan layanan kesehatan esensial dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan PTM, khususnya penyakit kardiovaskular," jelas Dr. Anwar.

Dijelaskan dalam jurnal Risk Management and Healthcare Policy yang ditulis olehnya, beberapa metode skrining dan pengintegrasian pelayanan kesehatan perlu dijalankan dengan cermat untuk mencegah PTM seperti jantung.

Sederet hal yang perlu disatukan adalah penerapan kebijakan, penanganan kesenjangan saat praktik pengobatan, ditambah masyarakat juga harus dilibatkan dan dijadikan prioritas.

"Selain itu, keterlibatan pasien, keluarga, dan masyarakat sekitar juga berperan penting dalam mencapai kesinambungan dan keberhasilan perawatan PTM," lanjutnya.

Khawatir tertular Covid-19 yang semakin memperburuk penyakit jantung, maka telemedicine bisa jadi jembatan bertemunya pasien dan dokter secara virtual.

Baca Juga: CDC: Penularan Virus Corona Lebih Tinggi Selama Olahraga Dalam Ruangan!

Salah satu telemedicine itu adalah NCD Academy, web interaktif yang mudah diakses para dokter umum, internis, hingga perawat untuk melakukan pencegahan dan pelayanan pengobatan PTM secara lebih baik.

"Kehadiran NCD Academy diharapkan dapat membuka akses bagi para tenaga kesehatan profesional untuk memperbaharui dan meningkatkan kemampuannya dalam menangani pasien PTM pada seluruh level layanan kesehatan di Indonesia," tutup dr. Ade Meidian Ambari, SpJP, FIHA, Wakil Sekretaris Jenderal II PERKI.

Komentar