Peneliti FKUI: Vaksin Vi-DT Lindungi Bayi & Anak dari Demam Tifoid

Vania Rossa | Suara.com

Jum'at, 23 Oktober 2020 | 08:05 WIB
Peneliti FKUI: Vaksin Vi-DT Lindungi Bayi & Anak dari Demam Tifoid
Ilustrasi vaksin. (Sumber: Shutterstock)

Suara.com - Salah satu upaya untuk menurunkan jumlah kasus demam tifoid, atau biasa dikenal masyarakat sebagai penyakit tipes, adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan ketersediaan air bersih. Namun pada daerah endemis dengan resistansi antibiotik tinggi, upaya ini tidak terlalu berdampak signifikan. Di sini, vaksinasi memegang peranan penting.

Demam tifoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Dari 14,3 juta kasus demam tifoid dan paratifoid di dunia, 12,6% terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun dan 55,9% pada anak-anak di bawah usia 15 tahun. Insiden tertinggi demam tifoid ditemukan pada daerah dengan angka kemiskinan tinggi, padat penduduk, dan sanitasi buruk.

Vaksin Vi-DT atau vaksin konjugat tifoid yang diproduksi PT Bio Farma terbukti aman dan efektif diberikan bagi anak-anak berusia 2-11 tahun. Hasil ini didapat dari sebuah uji klinis fase 2 yang dilakukan bersama antara FKUI-RSCM, PT Bio Farma, dan International Vaccine Institute Seoul.

Melalui penelitian ini, vaksin Vi-DT terbukti dapat meningkatkan titer antibodi 28 hari pascavaksinasi sebesar 4 kali lipat atau lebih.

Penelitian ini telah dipublikasikan pada jurnal BMC Pediatrics bulan Oktober 2020. Tim peneliti dari FKUI-RSCM terdiri atas sejumlah staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak, yaitu dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH; Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si; Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K); Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K); Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K); Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K); dan dr. Angga Wirahmadi, Sp.A.

Para peneliti dari FKUI-RSCM ini bekerja sama dengan dr. Mita Puspita; dr. Rini Mulia Sari; dr. Novilia Sjafri Bachtiar, M.Kes dari PT Bio Farma dan Jae Seung Yang, Ph.D.; dr. Arijit Sil, DA; Dr. Sushant Sahastrabuddhe, MBBS, MPH, MBA dari International Vaccine Institute, Seoul.

Pada penelitian ini, 200 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu berusia 2-11 tahun dan telah menandatangani lembar informed consent, dibagi menjadi 2 kelompok sama besar secara acak. Kelompok pertama menerima vaksin Vi-DT dan kelompok kedua menerima vaksin Vi-polysaccharide (Vi-PS).

Vaksin Vi-PS, sebagai vaksin tifoid berlisensi di Indonesia, berperan sebagai kontrol dalam penelitian ini. Untuk menghindari bias, peneliti tidak mengetahui pengalokasian kelompok subjek (observer-blind).

Mereka yang memiliki riwayat demam tifoid (dikonfirmasi dengan pemeriksaan kultur darah atau rapid test), sudah mendapat vaksinasi untuk demam tifoid sebelumnya atau vaksinasi apapun dalam kurun waktu 1 bulan tidak diikusertakan dalam studi. Subjek juga tidak boleh dalam keadaan demam (suhu ketiak ≥ 37,50C), punya sakit kronis, memiliki riwayat alergi terhadap komponen vaksin, atau sedang mengonsumsi obat-obatan yang memengaruhi sistem imun.

Sebelum vaksin disuntikkan, sampel darah setiap subjek diambil untuk memastikan kriteria penelitian terpenuhi. Setiap subjek diminta untuk memantau dan mencatat efek samping yang mungkin timbul selama 28 hari pascavaksinasi. Lalu pada hari terakhir, sampel darah setiap subjek diambil kembali untuk mengukur titer antibodi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, efek samping yang ditimbulkan kedua vaksin ini sama. Nyeri di daerah suntikan dan kemerahan menjadi efek samping yang umum ditemukan sampai dengan 24 jam pascavaksinasi.

Namun, pada hari ke 3 sampai 28 pascavaksinasi, efek samping sistemik seperti demam dan nyeri otot lebih tinggi dialami kelompok Vi-PS. Walaupun begitu, demam ini akan sembuh dalam kurun waktu 48 jam tanpa ada komplikasi apapun.

Berkaitan dengan kemampuan vaksin memicu respons imun tubuh atau tingkat imunogenisitas, kelompok subjek yang mendapat vaksin Vi-DT menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan dengan kelompok subjek yang mendapat vaksin Vi-PS. Antibodi 28 hari pascavaksinasi pada semua subjek di kelompok vaksin Vi-DT (100%) meningkat 4 kali lipat atau lebih dari nilai awal. Sementara pada kelompok vaksin Vi-PS, peningkatan antibodi 28 hari pascavaksinasi sebesar 4 kali lipat atau lebih hanya terjadi pada 93% subjek.

Selain bagi kelompok usia 2-11 tahun, vaksin Vi-DT juga terbukti aman dan efektif diberikan untuk anak-anak usia 6 bulan sampai 2 tahun. Hal ini tentu sangat membantu, apalagi mengingat belum ada vaksin tifoid berlisensi di Indonesia untuk anak-anak di bawah usia 2 tahun.

Melihat hasil uji klinisnya, keberadaan vaksin Vi-DT ini diharapkan mampu memberikan perlindungan yang lebih baik bagi bayi dan anak-anak dibandingkan vaksin tifoid sebelumnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tips Untuk Orangtua Agar Anak Terhindar Tifus

Tips Untuk Orangtua Agar Anak Terhindar Tifus

Health | Sabtu, 17 Oktober 2020 | 07:10 WIB

Tak Perlu Panik, Ini Cara Bedakan Demam Tifus dengan Akibat Infeksi Virus

Tak Perlu Panik, Ini Cara Bedakan Demam Tifus dengan Akibat Infeksi Virus

Health | Jum'at, 16 Oktober 2020 | 20:45 WIB

Anak Demam Tifus Haruskah Dirawat Inap di Rumah Sakit? Ini Kata Dokter

Anak Demam Tifus Haruskah Dirawat Inap di Rumah Sakit? Ini Kata Dokter

Health | Jum'at, 16 Oktober 2020 | 19:37 WIB

Terkini

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Health | Rabu, 08 April 2026 | 19:55 WIB

Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit

Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit

Health | Rabu, 08 April 2026 | 14:11 WIB

Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya

Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya

Health | Rabu, 08 April 2026 | 11:58 WIB

Solusi Membasmi Polusi Kekinian  ala Panasonic

Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic

Health | Selasa, 07 April 2026 | 19:00 WIB

Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan

Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan

Health | Selasa, 07 April 2026 | 11:00 WIB

Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD

Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD

Health | Senin, 06 April 2026 | 17:43 WIB

17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi

17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi

Health | Minggu, 05 April 2026 | 09:54 WIB

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB