Mau Tingkatkan Hormon Bahagia? Olahraga dan Makan dengan Benar Kuncinya!

Angga Roni Priambodo | Fita Nofiana | Suara.com

Minggu, 25 Oktober 2020 | 17:15 WIB
Mau Tingkatkan Hormon Bahagia? Olahraga dan Makan dengan Benar Kuncinya!
Ilustrasi perempuan bahagia. (Pexels)

Suara.com - Dopamin atau yang sering kali disebut dengan hormon bahagia bisa menghasilkan perasaan senang. Tingkat dopamin sendiri bisa membantu mempelajari informasi baru dan memotivasi Anda.

Memiliki cukup dopamin terkait dengan rendahnya risiko depresi, memiliki kehidupan lebih bahagia, sehat, dan produktif. Hal ini yang membuat peningkatan hormon dopamin diperlukan untuk kesejahteraan mental secara keseluruhan.

Melansir dari Insider, dopamin membantu orang menentukan tugas mana yang bermanfaat dan tidak. Para peneliti menemukan bahwa peserta dengan tingkat dopamin yang lebih tinggi cenderung mudah fokus.

"Dopamin membuat kita lebih terlibat, lebih mampu," kata Rashmi Mullur, MD, seorang ahli endokrinologi dan direktur pendidikan UCLA Health Integrative Medicine Collaborative.

Kadar dopamin sendiri dapat dikelola dengan perubahan gaya hidup dan intervensi medis, berikut adalah dua cara mudah meningkatkan dopamin Anda, antara lain:

Banyak Bergerak

Banyak gerak atau olahraga dapat banyak membantu kesehatan mental seseorang. Suatu studi menunjukkan bahwa olahraga bisa memengaruhi kadar dopamin di otak manusia.

Sebuah studi tahun 2002 yang menggabungkan pemindaian PET (positron emission tomography) menunjukkan adanya peningkatan pelepasan dopamin di otak selama peserta melakukan meditasi yoga nidra.

Para peneliti juga menemukan kemungkinan peningkatan kadar dopamin peserta selama melakukan pilates terutama untuk orang yang baru pulih dari gangguan penggunaan zat. Pilates dapat menangkal depresi, sedangkan olahraga pada umumnya meningkatkan aktivitas sinaptik otak termasuk serotonin dan dopamin.

Pola Makan Sehat

Makan makanan sehat bisa mengatur pelepasan hormon dopamin dalam otak. "Mengonsumsi lemak sehat dan protein yang cukup berperan besar dalam pengaturan kadar dopamin," kata Mullur.

Sebuah studi tahun 2018 menemukan bahwa rendahnya kadar lemak omega-3 dan asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) baik untuk fungsi otak. Kadar lemak omega-3 dan PUFA yang rendah dikaitkan dengan regulasi dopamin otak.

Ilustrasi Pola Makan Sehat. (Shutterstock)
Ilustrasi Pola Makan Sehat. (Shutterstock)

Secara umum, Mullur merekomendasikan beberapa pola makan, antara lain:

  • Konsumsi sayuran dan buah-buahan
  • Konsumsi biji-bijian utuh seperti quinoa, oatmeal, dan barley
  • Konsumsi lemak sehat seperti alpukat, minyak zaitun, kacang-kacangan, dan selai kacang
  • Konsumsi kacang-kacangan seperti kacang hitam, kacang merah, lentil, dan lain sebagainya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengapa Memencet Komedo Bikin Ketagihan? Dokter Jelaskan Alasannya

Mengapa Memencet Komedo Bikin Ketagihan? Dokter Jelaskan Alasannya

Health | Sabtu, 19 September 2020 | 18:35 WIB

Kurang Tidur dapat Menyebabkan Tubuh Nyeri Keesokan Harinya, Mengapa?

Kurang Tidur dapat Menyebabkan Tubuh Nyeri Keesokan Harinya, Mengapa?

Health | Rabu, 03 Juni 2020 | 18:04 WIB

Eks-Pecandu Narkoba Masih Bisa Kambuh, Sel Saraf Otak Ini Biang Keroknya

Eks-Pecandu Narkoba Masih Bisa Kambuh, Sel Saraf Otak Ini Biang Keroknya

Health | Jum'at, 10 April 2020 | 14:34 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB