Januari 2021 Masuk Sekolah Lagi, IDAI Ingatkan Orangtua Tiga Hal Ini

Risna Halidi, Dini Afrianti Efendi

Jum'at, 20 November 2020 | 18:20 WIB
Januari 2021 Masuk Sekolah Lagi, IDAI Ingatkan Orangtua Tiga Hal Ini
Aktifitas siswa SD Negeri 2 Tlogolele saat istirahat di Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (16/11/2020). [ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho]

Suara.com - Pemerintah memastikan telah memberi lampu hijau kegiatan belajar tatap muka per Januari 2021 nanti. Keputusan pembukaan sekolah akan diserahkan kepada pemerintah daerah (Pemda), yang dianggap mampu menilai kondisi pandemi Covid-19 di wilayahnya.

Nantinya Pemda yang ingin membuka sekolah juga harus mendapatkan persetujuan pihak sekolah dan para orangtua. Sedangkan para orangtua juga berhak memilih akan membiarkan anaknya tetap ikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau tetap belajar tatap muka di sekolah.

Menanggapi ini, Konsultan respirologi anak dari Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), mengingatkan orangtua untuk hati-hati mengambil keputusan.

"Orangtua harus bisa menilai kalau menurut saya, kesiapan sekolahnya bagaimana, terutama dia kriteria epidemiologisnya dibaca di daerah sekolahnya apa," ujar dr. Nastiti saat dihubungi Suara.com, Jumat (20/11/2020).

Kriteria epidemiologi yang dimaksud bukan hanya sebatas status zona hijau, kuning atau merah di sekolah anak. Namun juga melihat angka kasus infeksi Covid-19 di daerah tersebut. Jika jumlah kasusnya sedikit, lihat lagi case fatality rate atau risiko kematian kasus Covid-19 di wilayah tersebut

Misalnya ditemukan hanya 10 kasus Covid-19 di wilayah sekolah, tapi jumlah yang meninggal 5 orang. "Karena bisa jadi, kasusnya sedikit karena tes yang dilakukan juga sedikit," terang dr. Nastiti.

Itu artinya risiko kematian kasus Covid-19 di wilayah tersebut cukup besar yakni 50 persen. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan orangtua sebelum membiarkan anak sekolah tatap muka:

1. Lihat kesiapan sekolah
Sebelum mengambil keputusan orangtua perlu lihat kesiapan sekolah untuk membuka kegiatan belajar tatap muka. Misalnya protokol kesehatan yang dijalankan, fasilitas cuci tangan, hingga luas sekolah dan ruangan belajar mengajar.

"Kalau sekolahnya luas, di dalam sekolah bisa cukup longgar, itu cukup ideal, misalnya ada sekolah-sekolah yang cukup sedikit isi anaknya, itu masih bisa dimungkinkan. Orangtua harus bisa menilai kondisi kesiapan sekolahnya," jelas dr. Nastiti.

baca juga

2. Perhatikan kondisi anak
Sebelum mengirimkan anak ke sekolah, pastikan anak sudah mampu membekali dirinya untuk tidak tertular Covid-19. Biasanya anak dengan usia lebih kecil sangat sulit patuh terhadap protokol kesehatan.

Orangtua juga harus mampu menilai dan melatih anak untuk menjalankan protokol kesehatan di rumah dalam mengadaptasi kebiasaan baru. Jika anak belum mampu sebaiknya, orangtua biarkan anak tetap belajar dari rumah atau PJJ.

"Misalnya anaknya tahan berapa lama pakai masker di rumah, bisa gak dia mempraktikkan untuk selalu mencuci tangan jaga jarak. Dan paling penting anak itu punya masalah kesehatan atau tidak," tutur dr. Nastiti.

"Kalau kiranya anak itu punya masalah kesehatan yang cukup serius. Ya sebaiknya PJJ nya dilanjutkan saja," sambungnya.

3. Belajar di sekolah berdasarkan shifting atau bergillir
Praktik ini sudah diterapkan di berbagai perkantoran besar, yaitu tidak 100 persen karyawan harus hadir ke kantor, tapi hanya sebagian saja sedang sisanya melakukan pertemuan secara virtual atau online.

Ini juga yang bisa diterapkan di sekolah, apabila di sekolah tidak memungkinkan untuk mengatur jaga jarak. Sehingga tidak semua siswa bersekolah tatap muka, tapi dilakukan secara bergilir.

"Supaya ketika anaknya sudah cenderung depresi karena kelamaan di rumah, oke dia pilih offline dengan protokol kesehatan. Tetapi kalau justru orangtua dan anaknya insekyur datang ke sekolah dia punya opsi online, itu yang ideal," jelasnya.

"Harusnya memang idealnya, kalau pemerintah bilang terserah orangtua, berarti dia juga harus menyedihkan sarana untuk memilih," tutup dr. Nastiti.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Antisipasi Lonjakan Corona, Mendagri: Tingkatkan Fasilitas Karantina

Antisipasi Lonjakan Corona, Mendagri: Tingkatkan Fasilitas Karantina

Jabar | Jum'at, 20 November 2020 | 18:13 WIB

Sekolah Akan Dibuka, Mendagri Minta Pemda Tingkatkan Fasilitas Karantina

Sekolah Akan Dibuka, Mendagri Minta Pemda Tingkatkan Fasilitas Karantina

News | Jum'at, 20 November 2020 | 18:01 WIB

Sekolah Tatap Muka Dimulai Awal 2021, Kalau Bahaya Orangtua Bisa Menolak

Sekolah Tatap Muka Dimulai Awal 2021, Kalau Bahaya Orangtua Bisa Menolak

Jawa Tengah | Jum'at, 20 November 2020 | 17:30 WIB

Terkini

Agus Suparmanto: Pemecatan oleh Mardiono Langgar AD/ART, Tak Disahkan Menkum

Agus Suparmanto: Pemecatan oleh Mardiono Langgar AD/ART, Tak Disahkan Menkum

Jakarta | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:06 WIB

Ciamis Terima 15.600 Ayam Petelur, Produksi Telur Ditargetkan 780 Kg per Hari

Ciamis Terima 15.600 Ayam Petelur, Produksi Telur Ditargetkan 780 Kg per Hari

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:05 WIB

Pimpin PUTRI Banten, Nana Sunjana Target Pariwisata Dongkrak Ekonomi Masyarakat

Pimpin PUTRI Banten, Nana Sunjana Target Pariwisata Dongkrak Ekonomi Masyarakat

Banten | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:03 WIB

Kericuhan Malioboro Dinilai Jadi Kanal Frustrasi Sosial, Represif Aparat Hanya Perburuk Keadaan

Kericuhan Malioboro Dinilai Jadi Kanal Frustrasi Sosial, Represif Aparat Hanya Perburuk Keadaan

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:00 WIB

Buku Revolusi Nuklir: Menjelajahi Masa Depan dan Keganjilan Hidup Manusia

Buku Revolusi Nuklir: Menjelajahi Masa Depan dan Keganjilan Hidup Manusia

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:00 WIB

Bicara Kasus Keracunan MBG, Kepala BGN Sudaryono: Hancur Hatiku, Saya Baper

Bicara Kasus Keracunan MBG, Kepala BGN Sudaryono: Hancur Hatiku, Saya Baper

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:59 WIB

Diteken di Bandung, Indonesia dan Malaysia Perkuat Kerja Sama Ekonomi dan Sosial di Perbatasan

Diteken di Bandung, Indonesia dan Malaysia Perkuat Kerja Sama Ekonomi dan Sosial di Perbatasan

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:57 WIB

Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar

Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar

Bali | Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:57 WIB

Harga dan Spesifikasi HP Flagship Terbaru di Indonesia: Mewah, Performa Gahar!

Harga dan Spesifikasi HP Flagship Terbaru di Indonesia: Mewah, Performa Gahar!

Tekno | Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:56 WIB

Bos Danantara Pandu Sjahrir Tak Bantah Miliki Saham di Supra Sekuritas

Bos Danantara Pandu Sjahrir Tak Bantah Miliki Saham di Supra Sekuritas

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:55 WIB

×