alexametrics

Peneliti AS Temukan Tiga Obat Baru Potensial untuk Covid-19, Apa Saja?

Angga Roni Priambodo | Fita Nofiana
Peneliti AS Temukan Tiga Obat Baru Potensial untuk Covid-19, Apa Saja?
Ilustrasi Covid-19.(Pixabay/fernandozhiminaicela)

Peneliti AS menyebutkan bahwa pihaknya telah menemukan obat baru potensial untuk virus corona Covid-19.

Suara.com - Peneliti dari Meksiko dan Tennessee Amerika Serikat (AS) telah mengidentifikasi tiga obat yang dapat membantu pasien Covid-19. Studi ini telah diterbitkan pada jurnal ACS Pharmacology and Translational Science.

Melansir dari Healthshots, berdasarkan skrining antivirus virtual dan in-vitro yang dimulai pada bulan-bulan awal pandemi covid-19, para peneliti Pusat Ilmu Kesehatan Universitas Tennessee (UTHSC) yang dipimpin oleh Colleen Jonsson, PhD, mengidentifikasi tiga obat potensial untuk Covid-19.

Obat tersebut adalah zuclopenthixol, nebivolol, dan amodiaquine sebagai terapi yang menjanjikan untuk virus pada tahap awal. Amodiaquine adalah obat antimalaria, zuclopenthixol adalah antipsikotik, dan nebivolol adalah obat tekanan darah.

“Khususnya dalam konteks pandemi ini, ada kebutuhan untuk penelitian berkualitas tinggi yang dapat memberikan pengetahuan kritis tentang penyakit Covid-19 dan  pengobatan yang dapat diandalkan,” catat studi tersebut.

Baca Juga: Menkop UKM: 23 Persen Pendapatan UKM Merosot Akibat Pagebluk Corona

“Mengingat kebutuhan untuk meningkatkan kemanjuran dan keamanan, kami mengusulkan zuclopenthixol, nebivolol, dan amodiaquine sebagai kandidat potensial untuk uji klinis terhadap fase awal infeksi SARS-CoV-2,” tulis para peneliti.

Membandingkan obat  hidroksiklorokuin, para peneliti memeriksa 4.000 obat yang disetujui dan menemukan ketiganya bertindak serupa dengan hidroksiklorokuin dan bisa lebih aman.

Ilustrasi virus corona, covid-19. (Pexels/@cottonbro)
Ilustrasi virus corona, covid-19. (Pexels/@cottonbro)

Penelitian menunjukkan bahwa obat-obat tersebut juga dapat meningkatkan kemanjuran ketika dikombinasikan dalam dosis yang lebih rendah dengan remdesivir, anti-virus yang diberikan izin penggunaan darurat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).

“Ini adalah penemuan yang sangat menarik dan kami menindaklanjuti potensi penggunaan zuclopenthixol, nebivolol, dan amodiaquine dalam studi penelitian tambahan,” kata kata Tudor Oprea, MD, PhD, profesor Ilmu Kedokteran dan Farmasi, kepala Divisi Informatika Translasional Universitas New Mexico dan penulis terkait di makalah tersebut.

Baca Juga: Sulap Halaman Menjadi Kafe Shisha Tanpa Izin, Berakhir Digerebek Polisi

Komentar