Ketahui Perbedaan Hilangnya Bau dan Rasa pada Infeksi Covid-19 dengan Flu

Kamis, 03 Desember 2020 | 18:09 WIB
Ketahui Perbedaan Hilangnya Bau dan Rasa pada Infeksi Covid-19 dengan Flu
Ilustrasi tidak bisa merasakan bau dan rasa [Shutterstock]

Suara.com - Peneliti telah menganalisis bagaimana cara membedakan hilangnya kemampuan penciuman atau perasa akibat Covid-19 berbeda dengan pilek atau flu.

Sekelompok ahli gangguan penciuman Eropa menjelaskan pasien Covid-19 yang kehilangan bau dan rasa masih dapat bernapas lega, cenderung tidak berair atau hidung tersumbat, dan tidak dapat mendeteksi rasa pahit atau manis.

Temuan ini, dilansir Medical Express, membuktikan teori Covid-19 menginfeksi otak dan sistem saraf pusat.

"Hilangnya indra penciuman dan rasa dalah gejala utama Covid-19, namun ini juga gejala umum dari flu parah. Kami ingin mencari tahu apa tepatnya yang membedakan keduanya," kata peneliti utama Carl Philpott, dari UEA's Norwich Medical School.

Tim peneliti melakukan tes bau dan rasa pada 10 pasien terinfeksi virus corona, 10 orang dengan pilek parah, dan kelompok kontrol yang terdiri dari 10 orang sehat.

Ilustrasi bau mulut [shutterstock]
Ilustrasi indra penciuman [shutterstock]

Dari tes tersebut mereka menemukan hilangnya indra penciuman dan rasa pada Covid-19 'lebih dalam'.

"Mereka kurang dapat mengidentifikasi bau, dan tidak dapat mengidentifikasi rasa pahit atau manis. Ini sangat menarik karena berarti tes bau dan rasa dapat digunakan untuk membedakan pasien Covid-19 dan orang dengan flu atau flu biasa," sambungnya.

Meski begitu, Philpott mengatakan tes ini tidak dapat menggantikan alat diagnostik formal seperti usap tenggorokan.

Jadi, tes bau dan rasa ini hanya dijadikan alternatif ketika tes konvensional tidak tersedia atau ketika dibutuhkan skrining cepat.

Baca Juga: Putus Rantai Penularan Covid-19 Lewat 3T dan 3M, Ini Kata Satgas Covid-19

"Sangat menarik bahwa Covid-19 tampaknya mempengaruhi reseptor rasa manis dan pahit, karena ini diketahui memainkan peran penting dalam kekebalan bawaan," lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa masih diperlukan banyak penelitian untuk melihat apakah variasi genetik pada reseptor rasa pahit dan manis memengaruhi infeksi virus corona, atau sebaliknya, Covid-19 mengubah cara fungsi reseptor ini, baik secara langsung atau melalui badai sitokin.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Lelah Mental? Cek Seberapa Tingkat Stresmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu SpongeBob, Patrick, Squidward, Mr. Krabs, atau Plankton?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Nge-fans Kamu dengan Lisa BLACKPINK?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Maarten Paes? Kiper Timnas Indonesia yang Direkrut Ajax Amsterdam
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI