Jangan Pernah Berbohong, Begini Dampaknya Bagi Kesehatan Mental

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Selasa, 19 Januari 2021 | 15:45 WIB
Jangan Pernah Berbohong, Begini Dampaknya Bagi Kesehatan Mental
Ilustrasi pasangan berbohong. (Shutterstock)

Suara.com - Berbohong merupakan kebiasaan yang buruk.  Sebuah studi tahun 2002 yang dilakukan oleh psikolog Robert Feldman di University of Massachusetts menemukan, 60 persen orang berbohong setidaknya sekali selama 10 menit percakapan, mengatakan rata-rata dua sampai tiga kebohongan.

Kecenderungan berbohong akan membuat orang tersebut melakukan hal yang sama. Kebohongan tersebut tidak peduli besar atau kecilnya, tetapi dampak yang timbul akibatnya. Kebiasaan yang berbohong dalam kasus yang besar bisa menjadi suatu kriminalitas. Selain itu, berbohong juga memberikan dampak buruk bagi tubuh.

Ketidakjujuran akan membuat otak selalu siaga sehingga menyebabkan stres. hal ini karena dirinya dipenuhi perasaaan bersalah. Saat berbohong detak jantung dan pernapasan seseorang akan meningkat. Selain itu, biasanya tubuh menjadi berkeringat dan suara menjadii bergetar. Dalam beberapa kasus, orang yang berbohong bahkan menjadi gagap dan tidak dapat berbicara.

Gejala kecemasan muncul karena berbohong mengaktifkan sistem limbik di otak, area yang sama yang memulai respons "lawan atau lari" yang dipicu selama stres lain. Saat orang sedang jujur, area otak ini menunjukkan aktivitas minimal. Namun,  saat berbohong, bagian ini akan menyala seperti pertunjukan kembang api. Otak yang jujur itu rileks, sedangkan yang tidak jujur akan menjadi panik.

Ilustrasi (shutterstock)
Ilustrasi berbohong. (shutterstock)

Namun, pengaruh berbohong pada setiap orang berbeda. Hal ini karena pengaruh otak yang dimilikinya. Seseorang yang terbiasa berbohong biasanya kurang memiliki rasa empati sehingga saat ditanya ia akan menjawab seperti orang normal pada biasanya.

Efek jangka pendek dan jangka panjang dari berbohong

Menurut ahli gastroenterologi, Kara Gross Margolis dari Pusat Medis Universitas Columbia dan  David A. Johnson dari Eastern Virginia Medical School mengatakan, berbohong akan menyebabkan kecemasa seseorang secara terus-menerus.

Selain stres dan ketidaknyamanan jangka pendek, menjalani kehidupan yang tidak jujur berdampak buruk pada kesehatan. Menurut artikel ulasan 2015, berbohong terus-menerus dikaitkan dengan serangkaian hasil kesehatan negatif termasuk tekanan darah tinggi, peningkatan detak jantung, vasokonstriksi, dan peningkatan hormon stres dalam darah. Oleh karena itu, berbohong dengan waktu yang cukup lama akan berdampak buruk pada kondisi tubuh seseorang. / Fajar Ramadhan

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Polisi Ungkap Habib Rizieq Berbohong, Pernah Positif Covid-19

Polisi Ungkap Habib Rizieq Berbohong, Pernah Positif Covid-19

Kaltim | Selasa, 12 Januari 2021 | 18:15 WIB

Habib Rizieq Bohong, Ternyata Pernah Positif Covid-19

Habib Rizieq Bohong, Ternyata Pernah Positif Covid-19

Sumbar | Selasa, 12 Januari 2021 | 17:44 WIB

Sebar Informasi Palsu, Habib Rizieq Shihab Ternyata Pernah Positif Covid-19

Sebar Informasi Palsu, Habib Rizieq Shihab Ternyata Pernah Positif Covid-19

Jawa Tengah | Selasa, 12 Januari 2021 | 17:34 WIB

Terkini

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 19:57 WIB

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 13:21 WIB

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:12 WIB

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 10:42 WIB

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

Health | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:55 WIB