facebook

Hari Perempuan Sedunia, Ini Kisah Cewek ini Dilahirkan Tanpa Rahim

Bimo Aria Fundrika | Dinda Rachmawati
Hari Perempuan Sedunia, Ini Kisah Cewek ini Dilahirkan Tanpa Rahim
Hari Perempuan Sedunia, Ini Kisah Wani Ardy yang Dilahirkan Tanpa Rahim. (Dok: Wani.ardy)

ari Perempuan Sedunia, Ini Kisah Wani Ardy yang Dilahirkan Tanpa RahimInboxbimo

Suara.com - Nama Wani Ardy menjadi salah satu yang banyak dibicarakan di tengah perayaan Hari Perempuan Sedunia yang jatuh setiap 8 Maret setiap tahunnya. 

Perempuan yang juga seorang penulis dan influencer ini mengatakan jika di hari ini, ia berharap bisa membantu lebih banyak lagi perempuan, yang tidak memiliki rahim seperti dirinya, untuk membentuk kembali naluri keibuan.

Dilansir Hindustan Times, perempuan asal Malaysia ini berkisah, dirinya tahu mengenai kondisi ini saat di 17 tahun ia mulai merasa ada yang aneh dengan dirinya. Wani tidak mengalami menstruasi sama seperti remaja perempuan lainnya. 

Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, semua mengatakan hal yang sama padanya, bahwa Wani tidak memiliki rahim. Bertahun-tahun kemudian, Wani ingat bagaimana diagnosis tersebut membingungkan para dokter dan membuatnya tidak dapat berhubungan dengan teman-temannya.

Baca Juga: Cinta Senior, Kapolri Buat Program Vaksinasi Covid untuk Purnawirawan Polri

Hari Perempuan Sedunia, Ini Kisah Wani Ardy yang Dilahirkan Tanpa Rahim. (Dok: Wani.ardy)
Hari Perempuan Sedunia, Ini Kisah Wani Ardy yang Dilahirkan Tanpa Rahim. (Dok: Wani.ardy)

"Saat remaja, saya merasa sangat terisolasi karena pada saat itu, saya tahu saya berbeda," katanya.

Pada usia 20an, ia akhirnya mengetahui bahwa kondisi langka itu memiliki nama - sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH) - ketika organ seks internal seperti rahim atau vagina tidak ada atau kurang berkembang saat lahir.  MRKH mempengaruhi sekitar satu dari 5.000 perempuan di dunia dan penyebabnya tidak diketahui.

Wani yang seorang Muslim, mengatakan hambatan budaya dan pantangan seputar kesehatan seksual di negaranya sering membuat perempuan dengan MRKH merasa malu atau tidak mau mencari dukungan atau pengobatan.

Selama bertahun-tahun, dia merahasiakan kondisinya bahkan ketika dia memulai karir sebagai penyanyi, penyair, penulis, dan penulis naskah.

Namun setelah bergabung dengan grup dukungan online berbasis di AS untuk perempuan MRKH, Wani merasa terdorong untuk menjangkau orang lain yang lebih dekat dengan lingkungannya.

Baca Juga: Kronologis Menantu Racuni Ibu Mertua hingga Tewas, Tiga Kucing ikut Tewas

"Saya pikir jika saya dapat merasakan hal ini dengan seseorang yang pada dasarnya berada di seluruh dunia, bayangkan bagaimana perasaan saya jika saya dapat menemukan orang MRKH di negara saya sendiri, yang akan lebih dapat dihubungkan dalam hal pendidikan, latar belakang dan budaya," kata dia.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar