Studi: Mantan Pasien Covid-19 Harus Menunda Operasi hingga 7 Minggu

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana | Suara.com

Kamis, 11 Maret 2021 | 18:00 WIB
Studi: Mantan Pasien Covid-19 Harus Menunda Operasi hingga 7 Minggu
ilustrasi operasi [shutterstock]

Suara.com - Orang yang akan melakukan operasi atau pembedahan harus menunda setidaknya selama tujuh minggu jika terinfeksi Covid-19. Hal ini disebabkan karena mantan pasien Covid-19 disebut berisiko lebih mungkin meninggal akibat operasi jika dilakukan dalam 1 sampai 6 minggu setelah infeksi.

Melansir dari Healthshots, peneliti melakukan studi prospektif internasional, multisenter, dan prospektif terhadap 140.231 pasien yang menjalani operasi elektif atau darurat di 116 negara selama Oktober 2020. Mereka membandingkan pasien bedah dengan infeksi SARS-CoV-2 pra-operasi dengan pasien tanpa infeksi SARS-CoV-2 sebelumnya.

Penelitian ini telah diterbitkan pada jurnal Anesthesia.

"Untuk pertama kalinya, ini memberi kami bukti tentang minimum penundaan waktu dalam melakukan operasi yang akan mengoptimalkan hasil akhir operasi," kata Dr Shilpa Sharma, ahli bedah anak, AIIMS New Delhi yang juga penulis utama dari rumah sakit tersebut.

"Namun, hal ini perlu diimbangi dengan risiko penyakit pada pasien. Di AIIMS, kami telah melakukan RTPCR / CBNAAT secara rutin untuk skrining semua pasien bedah. Sering kali hasilnya positif Covid-19 dan jika memungkinkan, kami menunda operasi dan menunggu pasien pulih," tambahnya.

Ilustrasi operasi. (Pixabay)
Ilustrasi operasi. (Pixabay)

Kematian pascaoperasi dengan pasien tanpa Covid-19 memiliki risiko 1,5 persen kematian dalam jangka waktu 30 hari. Namun risiko kematian meningkat saat pasien operasi sempat kena Covid-19.

Penelitian menunjukkan bahwa risiko kematian meningkat jadi 4 persen jika dioperasi 0-4 minggu usai terinfeksi Covid-19 dan 3,6 persen saat dipoerasi 5-6 minggu usai infeksi Covid-19. Risiko tidak meningkat (tetap 1,5 persen) jika operasi deilakukan setelah 7 persen usai infeksi Covid-19.

Pasien yang dioperasi dalam waktu enam minggu setelah diagnosis SARS-CoV-2 juga berisiko tinggi mengalami komplikasi paru pasca operasi selama 30 hari.

"Selain itu kami telah menunjukkan bahwa pasien yang masih bergejala tujuh minggu setelah infeksi SARS-CoV-2 dan menjalani operasi juga mengalami peningkatan angka kematian. Karena itu, pasien ini mungkin mendapat manfaat dari penundaan lebih lanjut sampai gejala mereka hilang," kata dokter Sharma.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tangkal B117, Warga di Sumatera Selatan Diimbau Pakai Masker Dua Lapis

Tangkal B117, Warga di Sumatera Selatan Diimbau Pakai Masker Dua Lapis

News | Kamis, 11 Maret 2021 | 16:00 WIB

Sampai Hari Ini, 1.000 Orang Meninggal Dunia di Bali karena COVID-19

Sampai Hari Ini, 1.000 Orang Meninggal Dunia di Bali karena COVID-19

Bali | Kamis, 11 Maret 2021 | 15:54 WIB

Gerakan Satu Juta Sajadah Pelindung Covid-19

Gerakan Satu Juta Sajadah Pelindung Covid-19

Foto | Kamis, 11 Maret 2021 | 16:34 WIB

Terkini

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB