Kekebalan Vaksin Covid-19 Lebih Melindungi dari Gejala, Bukan Penularan

Rauhanda Riyantama | Rosiana Chozanah | Suara.com

Selasa, 30 Maret 2021 | 17:34 WIB
Kekebalan Vaksin Covid-19 Lebih Melindungi dari Gejala, Bukan Penularan
Ilustrasi vaksin Covid-19. (Elements Envato)

Suara.com - Negara-negara yang secara cepat melakukan vaksinasi Covid-19, seperti Israel dan Inggris, mulai memberikan indikasi seberapa baik vaksin bekerja. Hasil awal menunjukkan vaksin sangat efektif dalam mencegah orang yang terinfeksi dirawat di rumah sakit atau meninggal.

Namun, masih kurang jelas seberapa baik vaksin dalam menghentikan orang untuk menyebarkan virus corona.

Tetapi mengingat cara kerjanya, tidak heran jika vaksin kurang efektif dalam menghentikan orang menularkan virus daripada mencegah orang jatuh sakit. Sebab, jenis kekebalan yang dihasilkan vaksin cenderung lebih baik dalam melawan infeksi parah daripada ringan.

Cara kekebalan terbentuk

Ada sejumlah fase berbeda dalam pembentukan infeksi virus corona, menurut The Conversation.

Biasanya virus dimulai dengan infeksi mukosa karena awalnya menginfeksi lapisan hidung dan tenggorokan, mukosa nasofaring.

Ilustrasi vaksin Covid-19 (unsplash/@hakannural)
Ilustrasi vaksin Covid-19 (unsplash/@hakannural)

Itu adalah fase asimptomatik atau pra-gejala. Penderita dapat mengalami gejala ringan, seperti batuk atau perubahan rasa atau bau. Ketika virus berpindah ke seluruh tubuh dan menyebabkan masalah di banyak area tubuh, infeksinya bersifat sistemik.

Sistem kekebalan merespon secara berbeda terhadap infeksi mukosa dan sistemik.

Respon imun sistemik, yang bekerja di seluruh bagian tubuh dikaitkan dengan pembentukan satu jenis antibodi, IgG. Sedangkan kekebalan yang dihasilkan di mukosa dikaitkan dengan pembuatan IgA lain.

Akibatnya, vaksinasi yang berfokus pada menghasilkan kekebalan sistemik jarang menimbulkan kekebalan mukosa. Ini kemungkinan berlaku untuk semua vaksin Covid-19 yang saat ini tersedia.

Namun, mukosa nasofaring adalah titik nol untuk sebagian besar infeksi virus corona.

Jadi, sementara vaksin Covid-19 dapat menghasilkan respons kuat terhadap infeksi sistemik di paru-paru dan organ lain, vaksin cenderung tidak menghasilkan kekebalan yang sama untuk infeksi mukosa, waktu dimana virus mudah menular.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kanada Setop Kasih Vaksin Covid-19 AstraZeneca untuk Usia di Bawah 55 Tahun

Kanada Setop Kasih Vaksin Covid-19 AstraZeneca untuk Usia di Bawah 55 Tahun

Health | Selasa, 30 Maret 2021 | 17:21 WIB

India Batasi Ekspor Vaksin COVID-19, Indonesia Hingga Filipina Kewalahan

India Batasi Ekspor Vaksin COVID-19, Indonesia Hingga Filipina Kewalahan

Health | Selasa, 30 Maret 2021 | 14:22 WIB

Bolehkah Olahraga setelah Suntik Vaksin Covid-19? Ini Faktanya

Bolehkah Olahraga setelah Suntik Vaksin Covid-19? Ini Faktanya

Health | Selasa, 30 Maret 2021 | 15:00 WIB

Terkini

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:44 WIB

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 11:09 WIB

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:22 WIB

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 23:08 WIB

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 12:18 WIB

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 10:40 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:59 WIB

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:39 WIB