Benarkah Vape Lebih Baik dari Rokok Konvensional?

Risna Halidi | Dian Kusumo Hapsari | Suara.com

Selasa, 20 April 2021 | 14:20 WIB
Benarkah Vape Lebih Baik dari Rokok Konvensional?
Ilustrasi vape atau rokok

Suara.com - Dalam beberapa tahun terakhir, orang secara perlahan mulai beralih dari pengguna rokok konvensional ke rokok elektrik.

Perpindahan tersebut didasarkan adanya keyakinan bahwa rokok elektrik tidak terlalu berbahaya bagi kesehatan dan membantu mereka menghentikan kebiasaan merokok secara keseluruhan.

Hanya saja, banyak penelitian telah mengonfirmasi bahwa keyakinan tersebut tidak sepenuhnya benar. Merokok elektrik atau vaping, sama-sama melibatkan pemanasan dan penghirupan zat.

Pada rokok konvensional, asap tembakau yang dibakar, dihirup, tetapi dengan vape (rokok elektrik) perangkat memanaskan cairan (disebut jus vape atau e-liquid) hingga berubah menjadi uap yang terhirup.

Ilustrasi vape (rokok elektrik). (Shutterstock)
Ilustrasi vape (rokok elektrik). (Shutterstock)

Dilansir dari Okadoc, meski merokok biasa lebih berbahaya daripada vaping, namun tidak berarti rokok elektrik aman.

Rokok elektrik atau vape mungkin kurang berbahaya daripada rokok biasa karena perokok menghirup sekitar 7.000 bahan kimia sementara vaping kemungkinan mengandung lebih sedikit bahan kimia.

Cairan vaping juga dianggap mengandung lebih sedikit polutan daripada rokok, namun tidak aman karena alasan berikut:

Rokok elektrik mengandung nikotin dalam dosis besar, zat yang diketahui dapat memperlambat pertumbuhan otak janin, anak-anak, dan remaja.

Cairan yang digunakan juga menghasilkan uap berbahaya bagi orang dewasa dan anak-anak jika mereka menelan, menghirup, atau menyentuh kulitnya.

Selain itu, rokok elektrik juga mengandung banyak bahan kimia berbahaya termasuk diacetyl, bahan kimia karsinogenik, logam berat, dan senyawa organik yang mudah menguap (VOC).

Bahaya Merokok dan Vaping

Tidak seperti vape, ada studi dan penelitian bertahun-tahun yang sepenuhnya mendukung bukti bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan manusia karena menyebabkan:

  • Kerusakan pada setiap organ tubuh
  • 90% persen dari semua kematian akibat kanker paru-paru
  • Sekitar 80 persen kematian disebabkan oleh penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
  • Meningkatnya risiko kondisi kesehatan seperti penyakit jantung dan stroke

Studi tentang efek samping jangka panjang vaping saat ini terbatas. Tujuan dari penemuan vaping adalah cara yang lebih aman bagi perokok untuk mendapatkan nikotin.

Tetapi sebagian besar bukti menunjukkan bahwa bukan itu masalahnya. Vaping dapat menyebabkan:

  • Kerusakan paru-paru
  • Pelepasan sel-sel bebas dalam tubuh mendorong perkembangan kanker
  • Sistem kekebalan tubuh lemah
  • Perkembangan otak terhambat pada janin, anak-anak, dan remaja

Kapan Harus Menemui Dokter?
Secara umum, sangat disarankan tidak menggunakan rokok elektrik dan rokok konvensional. Sebagai alternatif, Anda bisa pergi ke metode sehat yang direkomendasikan oleh dokter cara berhenti merokok yang lebih aman.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Produk Tembakau Alternatif Faktanya Tidak Hasilkan Asap

Produk Tembakau Alternatif Faktanya Tidak Hasilkan Asap

Bisnis | Rabu, 14 April 2021 | 10:35 WIB

Benarkah Vape Bisa Kurangi Kebiasaan Merokok Tembakau? Ini Faktanya

Benarkah Vape Bisa Kurangi Kebiasaan Merokok Tembakau? Ini Faktanya

Health | Selasa, 13 April 2021 | 14:15 WIB

Pertumbuhan Industri Rokok Elektrik RI Terus Melejit

Pertumbuhan Industri Rokok Elektrik RI Terus Melejit

Bisnis | Minggu, 11 April 2021 | 12:13 WIB

Terkini

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB