- Konsumsi vitamin B6 berlebihan berisiko menyebabkan neuropati perifer atau kerusakan saraf serius.
- Gejala awal kerusakan saraf akibat kelebihan vitamin B6 meliputi rasa kesemutan hingga mati rasa pada bagian tubuh tertentu.
- Masyarakat disarankan memenuhi kebutuhan vitamin B6 melalui pola makan seimbang dibandingkan mengandalkan suplemen tanpa pengawasan medis.
Suara.com - Konsumsi suplemen kini menjadi tren di tengah aktivitas masyarakat yang padat. Namun, pakar neurologi mengingatkan bahwa kesemutan bisa menjadi tanda bahaya akibat kelebihan vitamin B6 yang berpotensi menyebabkan kerusakan saraf.
Pakar Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana, Prof. Dr. dr. Rizaldy Taslim Pinzon, Sp.S, mengatakan kelebihan vitamin B6 dapat menyebabkan neuropati perifer atau kerusakan saraf.
Menurut Prof. Pinzon, kasus neuropati perifer akibat konsumsi vitamin B6 memang terbilang jarang. Namun, ia mengingatkan masyarakat untuk bijak mengonsumsi vitamin dan memastikan penggunaannya sesuai kebutuhan tubuh.
"Pendekatan yang tepat bukan menghindari suplemen, melainkan memastikan penggunaannya berbasis ilmu pengetahuan dan sesuai kebutuhan individu,” ujar Prof. Pinzon dalam keterangan yang diterima Suara.com, Sabtu (31/5/2026).
Guru Besar Ilmu Nyeri Neuropatik yang berpraktik di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta ini menjelaskan, kerusakan saraf yang ditandai dengan gejala awal kesemutan hingga mati rasa umumnya terjadi saat seseorang mengonsumsi lebih dari satu jenis suplemen secara bersamaan.
Menurutnya, vitamin B6 memang memiliki peran krusial dalam menjaga fungsi saraf, metabolisme, hingga sistem kekebalan tubuh. Namun, asupan vitamin ini sebenarnya dapat diperoleh dari makanan sehari-hari sehingga tidak harus selalu berasal dari suplemen.
"Kebutuhan harian orang dewasa berkisar 1,3 hingga 2,0 miligram dan pada umumnya dapat dipenuhi melalui pola makan seimbang, seperti konsumsi daging unggas, ikan, telur, kentang, pisang, serta kacang-kacangan," kata dia.
Namun, Prof. Pinzon juga mengakui ada beberapa kelompok yang memang membutuhkan suplemen tambahan, seperti ibu hamil dan menyusui, lansia, serta penderita penyakit ginjal kronis dan diabetes.
Karena itu, alih-alih mengonsumsi suplemen tambahan vitamin B6, orang sehat lebih disarankan menerapkan pola makan seimbang.
"Untuk memperkuat penggunaan berbasis bukti, panel ahli multidisiplin dari kawasan Asia Pasifik telah merumuskan panduan penggunaan vitamin B6 yang aman," ungkapnya.
"Panduan ini menekankan pentingnya keseimbangan dosis, durasi konsumsi, serta pemantauan yang tepat, baik bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat,” sambung Prof. Pinzon.
Bagi masyarakat, langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah selalu membaca label produk sebelum mengonsumsi suplemen.
Selain itu, masyarakat juga disarankan untuk tidak mengonsumsi beberapa produk vitamin B secara bersamaan tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Apabila muncul gejala seperti kesemutan atau mati rasa setelah mengonsumsi suplemen dalam jangka waktu tertentu, penggunaan sebaiknya dihentikan sementara dan segera dikonsultasikan kepada dokter.
Sementara itu, tenaga kesehatan dianjurkan untuk melakukan evaluasi faktor risiko pada setiap individu, mengatur durasi penggunaan, serta melakukan pemantauan berkala, terutama pada terapi dosis tinggi.
Batas aman konsumsi vitamin B6 pada individu sehat umumnya tidak melebihi 100 miligram per hari. Adapun pada kondisi tertentu, penggunaan terapeutik dapat mencapai 600 miligram per hari dengan pengawasan medis yang ketat.
"Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, penting untuk mengedepankan panduan berbasis sains dibandingkan sekadar mengikuti tren," pungkas Prof. Pinzon.