alexametrics

Jangan Anggap Remeh, Nyeri Tubuh Berulang Bisa Terkait Risiko Demensia

Cesar Uji Tawakal | Fita Nofiana
Jangan Anggap Remeh, Nyeri Tubuh Berulang Bisa Terkait Risiko Demensia

Laporan menunjukkan bahwa nyeri tubuh berulang bisa terkait demensia.

Suara.com - Anda memang tidak dapat memprediksi kemunculan demensia. Tetapi ada faktor prediktif demensia yang ditemukan oleh para peneliti.

Laporan National Institute on Aging dengan demensia mungkin mengalami peningkatan rasa sakit 16 tahun sebelum diagnosis mereka. Studi tersebut diterbitkan di jurnal Pain.

Melansir dari Eat This, ini adalah studi yang pertama untuk memeriksa hubungan antara nyeri dan demensia dalam jangka waktu yang lama.

"Demensia dan nyeri kronis sama-sama menyebabkan perubahan pada otak dan dapat memengaruhi kesehatan otak seseorang," catat para peneliti.

Baca Juga: Benarkah Masalah Nyeri Haid Bisa Ganggu Kesuburan?

“Meskipun banyak orang yang mengalami demensia juga mengalami nyeri kronis, tidak jelas apakah nyeri kronis menyebabkan atau mempercepat timbulnya demensia," catat para peneliti.

Studi baru yang dipimpin oleh para peneliti di Université de Paris, memeriksa garis waktu hubungan antara demensia dan nyeri yang dilaporkan sendiri dengan menganalisis data dari sebuah penelitianselama 27 tahun.

Para peneliti mengukur rasa sakit dengan beberapa cara berbeda: intensitas nyeri, seberapa banyak rasa sakit yang dialami peserta, dan gangguan nyeri.

Ilustrasi perempuan demensia. [Shutterstock]
Ilustrasi perempuan demensia. [Shutterstock]

Kesimpulannya, temuan ini menunjukkan bahwa nyeri adalah gejala yang berkorelasi atau prodromal daripada penyebab demensia.

Studi ini bukan pertama kalinya yang menemukan hubungan antara masalah kesehatan dan demensia.

Baca Juga: Mencegah Demensia di Masa Tua, Yuk Lakukan 5 Rutinitas Berikut

"Beberapa kondisi lain yang diketahui meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular  seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi  yang juga meningkatkan risiko pengembangan Alzheimer," lapor Alzheimer's Association.

Komentar