alexametrics

Diabetesi Berisiko Alami Retinopati Diabetik, Komplikasi yang Sebabkan Buta

Risna Halidi
Diabetesi Berisiko Alami Retinopati Diabetik, Komplikasi yang Sebabkan Buta
Ilustrasi: Diabetesi Berisiko Alami Retinopati Diabetik, Komplikasi yang Sebabkan Buta (pixabay/Skitterphoto)

Retinopati diabetik masuk lima besar penyebab gangguan penglihatan dan kebutaan yang dapat dicegah atau diobati.

Suara.com - Diabetesi atau pengidap diabetes, masuk dalam kelompok yang harus tetap berhati-hati saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Jika tidak, kondisi kesehatan malah akan memburuk dan meningkatkan risiko terkena retinopati diabetik, salah satu komplikasi yang berpotensi menyebabkan kebutaan.

"Secara umum, puasa tidak memberikan pengaruh signifikan pada organ mata manusia. Namun, penderita diabetes perlu tetap waspada terhadap potensi gangguan mata akibat komplikasinya," kata Medical Retina, Vitreo-Retina, and Cataract Specialist, JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Martin Hertanto, SpM beberapa waktu lalu.

Badan kesehatan dunia atau WHO menyebut, retinopati diabetik masuk lima besar penyebab gangguan penglihatan dan kebutaan yang dapat dicegah atau diobati. Masalah ini menyerang setidaknya 3,9 juta orang di seluruh dunia.

Baca Juga: Awas, Pakai Lensa Kontak Saat Mandi Berisiko Alami Kebutaan

Martin menambahkan, jika tidak terdeteksi sejak dini, retinopati diabetik bisa menyebabkan pendarahan dan robekan pada retina sehingga menimbulkan gangguan pandangan, seperti berbayang atau munculnya bercak hitam, bahkan sampai kebutaan.

"Karenanya, sangat penting bagi pengidap diabetes untuk tetap mampu menjaga kadar gulanya selama berpuasa, dan melakukan pemeriksaan retina secara berkala minimal setahun sekali, tergantung derajat keparahan penyakit," paparnya lagi.

Retinopati diabetik sendiri adalah salah satu penyebab kebutaan terbanyak di kalangan usia produktif.

Penyakit ini terjadi akibat tingginya kadar gula dalam tubuh yang tidak terkontrol secara berkepanjangan sehingga merusak pembuluh darah pada retina dan jaringan-jaringan yang sensitif terhadap cahaya.

Penyakit ini terbagi menjadi dua tipe yaitu nonproliferative diabetic retinopathy (NPDR) dan proliferative diabetic retinopathy (PDR).

Berdasarkan Riskesdas 2018 prevalensi diabetes mencapai 8,5 persen atau jauh meningkat dibandingkan temuan sebelumnya Riskesdas 2013 yang masih 6,9 persen.

Data Kementerian Kesehatan memaparkan, pada tahun2015, Indonesia menempati peringkat ketujuh dunia untuk prevalensi penderita diabetes tertinggi di dunia dengan estimasi mencapai 10 juta orang.

Baca Juga: Studi: Mandi Pakai Lensa Kontak Berisiko 7 Kali Sebabkan Kebutaan

Bahkan, diabetes (dengan komplikasi) menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia, setelah stroke dan penyakit jantung koroner. Persentase kematian akibat diabetes di Indonesia merupakan yang tertinggi kedua di dunia, setelah Srilanka.

Komentar