Ahli Penyakit Menular AS Dukung Seruan Lockdown Nasional untuk India

Cesar Uji Tawakal, Rosiana Chozanah

Senin, 10 Mei 2021 | 20:44 WIB
Ahli Penyakit Menular AS Dukung Seruan Lockdown Nasional untuk India
Seorang perempuan menangis saat proses kremasi suaminya di sebuah krematorium di New Delhi, India, Rabu (5/5/2021) / [Antara - REUTERS/Adnan Abidi/hp/cfo (REUTERS/ADNAN ABIDI) ]

Suara.com - Perdana Menteri India Narendra Modi berada di bawah tekanan permintaan untuk memberlakukan penguncian atau lockdown nasional saat negaranya bergulat dengan wabah Covid-19 terburuk di dunia.

Kementerian kesehatan negara tersebut melaporkan 366.161 kasus baru pada Senin (10/5/2021), pertama kalinya infeksi harian turun di bawah 400 ribu sejak 6 Mei. Total kasus sekarang lebih dari 22 juta sejak pandemi virus corona dimulai.

Direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional Amerika Serikat, Anthony Fauci, pun mendukung bahwa India harus memberlakukan penguncian atau lockdown nasional.

"(Negara) Anda harus ditutup. Saya yakin beberapa negara bagian India telah melakukan itu, tetapi Anda perlu memutus rantai penularan, dan salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menutupnya," kata Fauci, dilansir CNN.

Menurutnya, penguncian nasional diperlukan untuk memutus rantai penularan.

Direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional AS, Anthony Fauci [AFP]
Direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional AS, Anthony Fauci [AFP]

"Orang dapat melakukannya selama dua, tiga minggu, empat minggu. Kemudian, segera setelah kasus mulai turun dan Anda memvaksinasi lebih banyak orang, maka Anda bisa mendahului lintasan wabah," sambung Fauci.

Pada Sabtu pekan lalu, Indian Medical Association (IMA) mengatakan pihaknya telah menyerukan penguncian nasional, terencana dengan baik, dan diumumkan sebelumnya 20 hari terakhir.

"Kuncian perlu berlangsung sekitar 10 hingga 15 hari untuk memberikan waktu bagi sistem kesehatan negara yang terlalu tegang untuk memulihkan dan mengisi kembali materi dan tenaga," jelas IMA.

IMA mengatakan jam malam sporadis dan pembatasan lain yang diberlakukan oleh beberapa negara bagian tidak ada gunanya.

baca juga

Modi sebelumnya juga memperingatkan bahwa penguncian hanya akan dianggap sebagai upaya terakhir.

"Dalam situasi saat ini, kami harus menyelamatkan negara dari lockdown. Saya akan meminta negara untuk melakukan lockdown sebagai opsi terakhir. Kami harus berusaha keras untuk menghindari lockdown dan fokus hanya pada zona penahanan mikro," katanya pada April lalu.

Terserah negara bagian untuk memutuskan kapan dan bagaimana menerapkan zona ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

23 Pasien Corona di India Hilang Saat Dirawat, Rumah Sakit Bingung

23 Pasien Corona di India Hilang Saat Dirawat, Rumah Sakit Bingung

News | Senin, 10 Mei 2021 | 19:58 WIB

Dinkes Sumsel Lacak 4 Kasus Corona Varian India

Dinkes Sumsel Lacak 4 Kasus Corona Varian India

Sumsel | Senin, 10 Mei 2021 | 17:03 WIB

Covid-19 Masuk ke Pabrik Apple di India, Produksi iPhone Terpengaruh?

Covid-19 Masuk ke Pabrik Apple di India, Produksi iPhone Terpengaruh?

Tekno | Senin, 10 Mei 2021 | 16:30 WIB

Terkini

Pertamina Ajak Anak Muda Jadi Penggerak Inovasi Indonesia di Momentum Sumpah Pemuda

Pertamina Ajak Anak Muda Jadi Penggerak Inovasi Indonesia di Momentum Sumpah Pemuda

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:37 WIB

Transjakarta Masih Rekayasa Operasional Imbas Demo Bundaran HI, 20 Rute Terdampak

Transjakarta Masih Rekayasa Operasional Imbas Demo Bundaran HI, 20 Rute Terdampak

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:35 WIB

4 Pelembap Andalan Bikin Wajah Lembap, Skin Barrier Kuat, Sekaligus Cerah

4 Pelembap Andalan Bikin Wajah Lembap, Skin Barrier Kuat, Sekaligus Cerah

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:35 WIB

Siswa Sekolah Rakyat Pimpin Ribuan Peserta Ikrarkan Sumpah Pemuda

Siswa Sekolah Rakyat Pimpin Ribuan Peserta Ikrarkan Sumpah Pemuda

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32 WIB

Respon Djarum Setelah Kantor Digeledah KPK Soal Dugaan Korupsi Bea Cukai

Respon Djarum Setelah Kantor Digeledah KPK Soal Dugaan Korupsi Bea Cukai

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27 WIB

Pimpinan DPR Tegaskan Sekat Parpol Tak Boleh Retakkan Komitmen Menjaga Konstitusi

Pimpinan DPR Tegaskan Sekat Parpol Tak Boleh Retakkan Komitmen Menjaga Konstitusi

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:25 WIB

Edison Didakwa Terima Rp4,67 Miliar dalam Kasus Smart Board, Jaksa Ungkap Dugaan Transaksi Bertahap

Edison Didakwa Terima Rp4,67 Miliar dalam Kasus Smart Board, Jaksa Ungkap Dugaan Transaksi Bertahap

Sumsel | Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:20 WIB

Insidious: Out of the Further, Petualangan Baru Melintasi Dua Dimensi

Insidious: Out of the Further, Petualangan Baru Melintasi Dua Dimensi

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:20 WIB

Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya

Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:19 WIB

Sering Makan Enak tapi Jarang Gerak? Anak Muda Juga Perlu Peduli Kolesterol

Sering Makan Enak tapi Jarang Gerak? Anak Muda Juga Perlu Peduli Kolesterol

Health | Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:17 WIB

×