Gegara Lockdown, Selama Pandemi Covid-19 Lapisan Ozon Dunia Membaik

Bimo Aria Fundrika, Dian Kusumo Hapsari

Jum'at, 11 Juni 2021 | 16:55 WIB
Gegara Lockdown, Selama Pandemi Covid-19 Lapisan Ozon Dunia Membaik
Ilustrasi lapisan ozon. [Shutterstock]

Suara.com - Para ilmuwan menyatakan bahwa selama masa pandemi Covid-19 pada awal 2020 lalu membuat lapisan ozon yang selama ini menjadi ancaman untuk kesehatan manusia dan iklim mengalami penurunan 15 persen secara global.

Hal tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dipimpin oleh para ilmuwan di Laboratorium Propulsi Jet NASA di California selatan.

Dilansir melalui news18, sebagai akibat dari emisi Nitrogen oksida (NOx) yang lebih rendah, pada Juni 2020, tingkat ozon global turun drastis. Bahkan menurut pengambil kebijakan penurunan itu setara dengan 15 tahun pengurangan secara konvensional.

Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)
Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Menurutnya, semakin ketat penguncian yang diberlakukan suatu negara, semakin besar pengurangan emisi.

Misalnya, perintah untuk tinggal di rumah di China pada awal Februari 2020 menghasilkan penurunan emisi NOx 50 persen di beberapa kota dalam beberapa minggu; sebagian besar negara bagian AS mencapai penurunan 25 persen kemudian di musim semi.

Hasil total dari pengurangan emisi NOx itu berkisar pada penurunan 2 persen pada ozon global. Jumlah itu merupakan setengah dari jumlah kontrol emisi NOx paling agresif yang dipertimbangkan oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim, badan otoritatif pakar iklim internasional.

Pengurangan ozon dari pengurangan emisi NOx dengan cepat menyebar ke seluruh dunia dan dari permukaan ke atas lebih dari 10 kilometer.

“Saya benar-benar terkejut melihat seberapa besar dampaknya terhadap ozon global. Kami mengharapkan lebih banyak respons lokal di permukaan," kata ilmuwan JPL Jessica Neu, dalam sebuah pernyataan.

Namun, baik emisi NOx dan ozon global akan naik lagi ketika ekonomi dunia kembali pulih, ungkap temuan yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances.

baca juga

Ozon melindungi kita dari radiasi matahari yang merusak ketika berada tinggi di atas Bumi di stratosfer. Ozon di permukaan diperkirakan menyebabkan 365.000 kematian secara global pada tahun 2019 dengan merusak paru-paru orang yang rentan, seperti anak kecil dan penderita asma.

Demikian pula, itu juga dapat merusak sistem pernapasan tanaman, termasuk kemampuan mereka untuk berfotosintesis, serta mengurangi pertumbuhan tanaman dan hasil panen.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Work From Home, Worth It Nggak Sih?

Work From Home, Worth It Nggak Sih?

Your Say | Jum'at, 11 Juni 2021 | 14:27 WIB

Presiden Brasil Berencana Tak Wajibkan Pakai Masker yang Sudah Vaksin Covid-19

Presiden Brasil Berencana Tak Wajibkan Pakai Masker yang Sudah Vaksin Covid-19

Health | Jum'at, 11 Juni 2021 | 14:06 WIB

SuaraLive!: Cara Makassar Lawan Pandemi Covid-19

SuaraLive!: Cara Makassar Lawan Pandemi Covid-19

Video | Jum'at, 11 Juni 2021 | 13:53 WIB

Terkini

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Terjaring OTT, KPK Periksa Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Mapolresta Klaten

Jawa Tengah | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:50 WIB

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Nestle Indonesia Gandeng Kemendag, Perkuat Daya Saing Produk Lokal di Pasar Global

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:49 WIB

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Koalisi Pers Sumsel Desak Evaluasi Pengamanan Demo Usai Tiga Wartawan Dikeroyok

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Kasus Karhutla Sumsel: 16 Perusahaan Diusut, Mengapa Baru PT RAS Ditetapkan Tersangka?

Sumsel | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:21 WIB

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

Dirut Jadi Tersangka Korupsi Nikel, PT CNI Hormati Proses Hukum

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:11 WIB

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

Kejagung Ungkap Alasan Jabatan Kajati Diusulkan Setara Bintang Tiga

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:04 WIB

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Setahun Kepergian Kartini Muljadi, Nilai Kebaikannya Dihidupkan Lewat Tiga Program Sosial

Lifestyle | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

Penyebab Banjir Nepal Bisa Setinggi 25 Meter Terkuak, Dunia Diambang Kiamat?

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:02 WIB

×