alexametrics

Epidemiolog Griffith University: Vaksin Membuat Optimisme Masyarakat Naik

Fabiola Febrinastri
Epidemiolog Griffith University: Vaksin Membuat Optimisme Masyarakat Naik
Ilustrasi Vaksin (Pexels/Gustavo)

Sebanyak 63,2 persen responden menerima kehadiran vaksin secara positif.

Suara.com - Epidemiolog dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman mengatakan, setelah pemerintah memberikan kebijakan untuk vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat secara luas, maka optimisme masyarakat naik signifikan. Optimisme ini dapat dilihat dari tingkat kepercayaan masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah, seperti bekerja di kantor hingga berlibur.

“Terjadinya optimisme di kalangan masyarakat akibat adanya vaksin merupakan hal yang positif," ujarnya, dalam Indonesia Industry Outlook 2nd Semester 2021, Rabu (28/7/2021).

Menurut temuan Inventure-Alvara, aktivitas umum seperti bekerja di kantor, bersekolah, dan berbelanja di pasar tradisional mendapat persetujuan tinggi dari responden, yaitu 70-80 persen.

Tingginya tingkat konfiden masyarakat, salah satunya didorong oleh program vaksinasi yang sedang berjalan. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh lembaga yang sama, sebanyak 63,2 persen responden menerima kehadiran vaksin secara positif, yang mana 41 persen diantaranya telah mendapatkan vaksin.

Baca Juga: Polres Malang Siapkan 5.000 Dosis untuk Vaksinasi Covid-19

Kombinasi antara partisipasi masyarakat dan upaya program vaksinasi massal dari pemerintah yang semakin progresif bertujuan untuk mencapai herd immunity atau kekebalan imunitas.

Namun demikian, Dicky menambahkan, pemerintah diminta untuk mencermati, meskipun kepercayaan masyarakat tinggi, tapi tingkat partisipasi dalam mendapatkan vaksinasi masih rendah.

“Rendahnya tingkat partisipasi vaksinasi inilah yang perlu didorong dan diupayakan lagi dalam setiap sektor. Sebab yang menjadi game charger itu bukan pada vaksinnya saja, namun lebih pada orang yang mau divaksin. Hal ini yang akan menjadi modal utama dan masih menjadi catatan besar untuk Indonesia, termasuk tracking, tracing dan isolasi mandiri pun perlu diperkuat,” ujarnya.