Kenapa Ibu Berhenti Memberi ASI Eksklusif untuk Bayinya? Ini Kata Dokter

Vania Rossa, Dini Afrianti Efendi

Minggu, 08 Agustus 2021 | 10:53 WIB
Kenapa Ibu Berhenti Memberi ASI Eksklusif untuk Bayinya? Ini Kata Dokter
Ilustrasi menyusui. (Elements Envato)

Suara.com - Ada beberapa sebab ibu berhenti memberi ASI eksklusif sebelum bayinya berusia enam bulan. Salah satunya ibu merasa jumlah ASI yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan si bayi.

Padahal menurut dokter gizi sekaligus peneliti ASI, Dr. Rina Agustina, bayi tidak harus langsung diberi ASI dalam jumlah banyak, karena ukuran perut bayi yang masih kecil.

ASI eksklusif adalah pemberian makan berupa ASI berusia 0 hingga 6 bulan, tanpa dicampur makanan apapun selama periode tersebut.

"Kenapa ASI eksklusif tidak diberikan, ternyata para ibu merasa bahwa ASI-nya itu kurang. Sehingga anak sering menangis," ungkap Dr. Rina saat memaparkan penelitiannya melalui diskusi IMERI Universitas Indonesia, Sabtu (7/8/2021).

Dr. Rina juga menemukan banyak ibu merasa anak yang menangis, seolah menyiratkan pesan jika bayi butuh makanan lain selain ASI. Padahal kata Dr. Rina, bayi menangis tidak selalu menandakan kekurangan ASI.

"Pemikiran inilah yang seharusnya para ibu perlu mendapatkan edukasi lebih jauh," tutur Dr. Rina.

Berikut ini beberapa alasan lain para ibu putuskan berhenti berikan ASI eksklusif, berdasarkan hasil riset yang dilakukan di Banten dan sekitarnya di 2021:

  • Ibu merasa saat waktunya saja untuk distop.
  • Tidak cukup ASI yang dikeluarkan.
  • Ibu menganggap anak butuh snack.
  • Anggapan anak perlu tambahan makanan selain ASI.
  • Ibu merasa capek dan lelah.
  • Kejadian anak yang terlalu rewel.
  • Akibat ibu yang sakit.
  • Ibu yang mengalami kehamilan lebih cepat.

Sementara itu pemberian ASI eksklusif terus didorong pemerintah, guna memenuhi sasaran World Health Assembly (WHA), yaitu minimal 50 persen pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pada tahun 2025 mendatang.

Sedangkan studi dari The Global Breastfeeding Collective, pada 2017 menunjukkan bahwa satu negara akan mengalami kerugian ekonomi sekitar 300 miliar dollar AS per tahun, akibat rendahnya cakupan ASI eksklusif yang berdampak pada meningkatnya risiko kematian ibu dan balita serta pembiayaan kesehatan akibat tingginya kejadian diare dan infeksi lainnya.

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

ASI Ibu yang Positif Covid-19 Bisa Tularkan Virus Corona? Ini Faktanya

ASI Ibu yang Positif Covid-19 Bisa Tularkan Virus Corona? Ini Faktanya

Health | Jum'at, 06 Agustus 2021 | 12:55 WIB

Stres Pandemi Covid-19 Sebabkan Program ASI Eksklusif Terganggu

Stres Pandemi Covid-19 Sebabkan Program ASI Eksklusif Terganggu

Health | Jum'at, 06 Agustus 2021 | 06:40 WIB

Pekan Menyusui Sedunia: Donor ASI Belum Punya Payung Hukum di Indonesia

Pekan Menyusui Sedunia: Donor ASI Belum Punya Payung Hukum di Indonesia

Health | Kamis, 05 Agustus 2021 | 16:55 WIB

Terkini

Jaga Warisan Perjuangan, Bupati Bogor Lakukan Revitalisasi Total Cagar Budaya SDN Cileungsi 02

Jaga Warisan Perjuangan, Bupati Bogor Lakukan Revitalisasi Total Cagar Budaya SDN Cileungsi 02

Bogor | Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:56 WIB

Pakar Hukum Tata Negara Ungkap Inpres Kopdes Merah Putih Keliru

Pakar Hukum Tata Negara Ungkap Inpres Kopdes Merah Putih Keliru

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:55 WIB

Buntut Kasus Yurizal, Nakes Jakarta Dilarang Keras Cibir Pasien BPJS

Buntut Kasus Yurizal, Nakes Jakarta Dilarang Keras Cibir Pasien BPJS

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:53 WIB

Download BRImo Lewat Link Ini Langsung Dapat Cashback

Download BRImo Lewat Link Ini Langsung Dapat Cashback

Bri | Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:48 WIB

Kirsten Dunst Gabung Sekuel The Housemaid, Intip Sinopsis dan Jadwal Tayang

Kirsten Dunst Gabung Sekuel The Housemaid, Intip Sinopsis dan Jadwal Tayang

Your Say | Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:45 WIB

Cacing Diduga Muncul di Menu MBG Musi Rawas, Ini 6 Fakta yang Terungkap

Cacing Diduga Muncul di Menu MBG Musi Rawas, Ini 6 Fakta yang Terungkap

Sumsel | Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:44 WIB

Rugikan Rp64 Miliar, 9 Tersangka Dugaan Korupsi Dana PI Tak Langsung Ditahan

Rugikan Rp64 Miliar, 9 Tersangka Dugaan Korupsi Dana PI Tak Langsung Ditahan

Riau | Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:40 WIB

Lip Scrub Boleh Dipakai Setiap Hari? Ini 3 Produk yang Dipuji Efektif Bikin Bibir Halus

Lip Scrub Boleh Dipakai Setiap Hari? Ini 3 Produk yang Dipuji Efektif Bikin Bibir Halus

Lifestyle | Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:35 WIB

Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa

Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:31 WIB

Cara Lamar Lowongan Kerja BBAP BRI Agustus 2026, Ini Link Resminya

Cara Lamar Lowongan Kerja BBAP BRI Agustus 2026, Ini Link Resminya

Bri | Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:27 WIB

×