alexametrics

Varian Baru Virus Corona Covid-19 Terus Bermunculan, Apakah Selalu Lebih Berbahaya?

Yasinta Rahmawati
Varian Baru Virus Corona Covid-19 Terus Bermunculan, Apakah Selalu Lebih Berbahaya?
Ilustrasi virus corona, hidung, mimisan (Pixabay/mohamed_hassan)

Dengan sifat virus corona Covid-19 yang mudah bermutasi ini, penting untuk mencegah terciptanya varian baru yang berpotensi lebih ganas.

Suara.com - Varian baru virus corona Covid-19 terus bermunculan. Hingga saat ini, tercatat ada empat varian baru yang dikategorikan sebagai variant of concern (VoC) yang terdeteksi di Indonesia, yakni varian Delta, Alfa, Gamma dan Beta.

Varian Delta pertama terdeteksi dari sampel yang diambil pada bulan Januari lalu di Jakarta dan Palembang. Sifatnya yang mudah menular menyebabkan cepat menyebar ke 16 provinsi dan membuat sistem kesehatan di Indonesia kewalahan.

Banyak orang mungkin bertanya-tanya, apakah varian baru virus corona Covid-19 selalu lebih berbahaya dan menular?

Dikutip dari Medical Daily, virus bermutasi dari waktu ke waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan mereka dan meningkatkan kelangsungan hidupnya.

Baca Juga: Wali Kota Pontianak: Lonjakan Kasus Covid-19 Karena Varian Delta

Sebuah varian baru mungkin lebih atau kurang berbahaya daripada strain lain tergantung pada mutasi dalam kode genetiknya. Mutasi dapat memengaruhi atribut seperti seberapa menular varian virus, bagaimana ia berinteraksi dengan sistem kekebalan, atau tingkat keparahan gejala yang dipicunya.

INFOGRAFIS: Varian Delta Lebih Berbahaya, Waspadai 3 Gejala Utamanya yang Berbeda!
INFOGRAFIS: Varian Delta Lebih Berbahaya, Waspadai 3 Gejala Utamanya yang Berbeda!

Varian delta dilaporkan hampir dua kali lebih menular daripada strain sebelumnya dan dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah di antara mereka yang tidak divaksinasi.

Viral load dari mereka yang terinfeksi dengan varian Delta, yang berarti jumlah virus yang terdeteksi dari saluran hidung dari orang yang terinfeksi, juga dilaporkan lebih dari 1.000 kali lebih tinggi dibandingkan pada mereka yang terinfeksi dengan bentuk asli dari SARS-CoV-2.

Bukti terbaru juga menunjukkan bahwa orang yang tidak divaksinasi dan divaksinasi membawa viral load yang serupa, yang selanjutnya berkontribusi pada sifat menular dari varian ini.

Dikutip dari DW Indonesia, pakar penyakit menular atau epidemiolog dan dosen di Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengatakan virus akan mengalami kecacatan atau mutasi kecil setiap kali ia berpindah inang.

Baca Juga: CEK FAKTA: Benarkah Orang yang Sudah Divaksin Lebih Banyak Terpapar Varian Delta?

Sebagai dampaknya, virus tersebut bisa melemah atau justru menguat. Dicky pun menjelaskan bahwa peluang virus untuk berubah menjadi ganas akan meningkat jika terus menyebar.

Komentar