alexametrics

Mengenal Alopesia Areata, Masalah Rambut Rontok Pada Pengidap Autoimun

Risna Halidi | Lilis Varwati
Mengenal Alopesia Areata, Masalah Rambut Rontok Pada Pengidap Autoimun
Ilustrasi rambut rontok. (Sumber: Pinterest.com)

Ada banyak penyebab kerusakan rambut termasuk penyakit akut seperti autoimun.

Suara.com - Masalah rambut rontok bisa dialami siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. 

Rambut rontok sebenarnya 'masalah normal' jika rambut yang lepas masih dalam jumlah moderat yaitu tidak lebih dari 100 helai per hari. Apalagi rambut rontok yang terlalu banyak hingga berkepanjangan bisa menyebabkan kebotakan.

Ada banyak penyebab kerusakan rambut tersebut. Salah satunya disebabkan adanya penyakit akut seperti autoimun.

Rambut rontok yang disebabkan adanya penyakit autoimun disebut juga alopesia areata. Namun, masih ada kekeliruan di masyarakat yang mengira pengidap alopesia areata sebagai pasien kanker.

Baca Juga: Komnas KIPI Ungkap Sejumlah Efek Vaksin Moderna di Indonesia

"Jadi kalau seluruh kulit kepalanya botak malah dikira kanker atau keganasan. Ini termasuk penyakit autoimun, paling sering ditemukan pasien enak," kata dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Eyleny Meisyah Fitri, Sp.KK., dalam webinar ZAP Premiere, Selasa (31/8/2021).

Dokter Eyleny menjelaskan bahwa penyakit alopesia areata menyebabkan pengidapnya tidak lagi memiliki jaringan parut di kepala, selain itu kerontokan yang disebabkan biasanya menimbulkan pola khusus.

Seperti membentuk huruf M dibagian depan kepala laki-laki. Sedangkan pada perempuan kerontokan lebih banyak terjadi di area tengah kepala.

"Jadi kaya lingkaran ataupun oval," imbuhnya.

Sementara itu, kebotakan pada pasien kanker sebenarnya bukan disebabkan karena penyakit kanker itu sendiri. Ia menjelaskan, penyebab rontok pada pasien kanker akibat efek samping dari obat-obatan kemoterapi.

Baca Juga: Tak Semua Cocok, Ini Syarat Vaksin Covid-19 Untuk Orang Dengan Autoimun

"Kita tahu kanker khasnya membelah (sel) cepat. Sel yang membelah cepat itu lalu diberi obat kemoterapi maka diharapkan pertumbuhan atau pembelahan sel terhenti."

"Tapi kadang-kadang berefek pada pembelajaran sel di dalam rambut. Saat anagen bermasalah, jadi rambut rontok," jelas dokter Eyleny.

Komentar