alexametrics

Awas, Paparan Kebisingan Lalu Lintas Tingkatkan Risiko Demensia

Cesar Uji Tawakal | Fita Nofiana
Awas, Paparan Kebisingan Lalu Lintas Tingkatkan Risiko Demensia
Suasana lalu lintas di Jalan Raya Lenteng Agung-Pasar Minggu, Jakarta Selatan di hari pertama pelaksanaan PSBB total di Jakarta, Senin (14/9/2020). (Suara.com/Arga)

Studi menunjukkan bahwa paparan kebisingan lalu lintas bisa picu demensia.

Suara.com - Paparan polusi suara dari lalu lintas bisa meningkatkan risiko lebih tinggi terkena demensia. Hal ini dinyatakan dalam penelitian dari jurnal BMJ

Melansir dari Independent, para peneliti dari Denmark mempelajari paparan jangka panjang dari kebisingan lalu lintas jalan raya dan kebisingan kereta api.

Mereka mengaitkan dengan risiko demensia di antara dua juta orang dewasa berusia di atas 60 tahun dan tinggal di Denmark antara 2004 hingga 2017.

Peneliti menemukan bahwa 103.500 kasus baru demensia selama masa studi terjadi di antara orang yang tinggal dekat kebisingan. Mereka kemudian menggunakan register kesehatan nasional untuk mengidentifikasi kasus demensia selama rata-rata 8,5 tahun.

Baca Juga: Ahli: Virus Corona Covid-19 Bisa Picu Lonjakan Kasus Demensia

Penelitian ini memperkirakan bahwa pada tahun terakhir penelitian, 1.216 dari 8.475 kasus demensia yang terdaftar di Denmark pada 2017 dapat dikaitkan dengan paparan kebisingan.

Orang-orang yang terpapar kebisingan lalu lintas jalan 55 desibel ke atas, 27 persen lebih mungkin untuk mengembangkan Alzheimer, bentuk paling umum dari demensia. 

Kebisingan dari kereta api sebesar 50db dapat meningkatkan risiko sebesar 24 persen dibandingkan dengan orang yang tinggal di daerah dengan kebisingan kurang dari 40db.

Ilustrasi perkotaan (Shutterstock).
Ilustrasi perkotaan (Shutterstock).


“Studi epidemiologis secara konsisten menghubungkan kebisingan transportasi dengan berbagai penyakit dan kondisi kesehatan, seperti penyakit jantung koroner, obesitas, dan diabetes," ujar Penulis koresponden Dokterr Manuella Lech Cantuaria. 

“Mekanisme biologis yang diusulkan adalah reaksi yang diinduksi kebisingan, dengan aktivasi saraf otonom dan sistem endokrin (hormon) dan pelepasan hormon stres berikutnya, yang mempengaruhi beberapa fungsi fisiologis," imbuhnya. 

Baca Juga: WHO Prediksi Jumlah Pengidap Demensia di Dunia akan Bertambah Hingga 139 Juta Jiwa

Paparan kebisingan di malam hari juga dapat menyebabkan gangguan tidur dan tidur yang terfragmentasi.

"Studi eksperimental telah menemukan hubungan antara kebisingan transportasi di malam hari dan disfungsi endotel, peningkatan stres oksidatif, perubahan dalam sistem kekebalan, dan peningkatan peradangan sistemik," ujar dokter Cantuaria. 

Penelitian sebelumnya juga telah mengaitkan kebisingan transportasi dengan berbagai penyakit dan kondisi kesehatan, seperti penyakit jantung koroner dan obesitas.

Komentar