Studi: Bukan Makan Berlebihan, Penyebab Umum Obesitas adalah Salah Asupan

Selasa, 14 September 2021 | 15:00 WIB
Studi: Bukan Makan Berlebihan, Penyebab Umum Obesitas adalah Salah Asupan
Ilustrasi makan (Pexels/George Milton)

Suara.com - Sebuah studi baru mengklaim bahwa makan berlebihan bukanlah penyebab utama obesitas. Sebaliknya, sebagian besar penyebab obesitas saat ini terletak pada pola makan modern.

Melansir dari Healthshots, pola makan modern ditandai dengan konsumsi berlebihan makanan dengan beban glikemik tinggi khususnya, karbohidrat olahan yang cepat dicerna.

Makanan ini menyebabkan respons hormonal yang  secara mendasar mengubah metabolisme, mendorong penyimpanan lemak, penambahan berat badan, dan obesitas. Penelitian ini telah diterbitkan pada The American Journal of Clinical Nutrition.

Statistik dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menunjukkan bahwa obesitas menempatkan pada risiko yang lebih tinggi untuk penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, dan jenis kanker tertentu.

Ilustrasi makan burger demi bikin konten mukbang. (Pixabay/Michael Wave)
Ilustrasi makan burger demi bikin konten mukbang. (Pixabay/Michael Wave)


Di sisi lain, meskipun beberapa dekade pesan kesehatan masyarakat mendesak orang untuk makan lebih sedikit dan berolahraga lebih banyak, tingkat obesitas dan penyakit terkait obesitas terus meningkat.

Ketika kita makan karbohidrat olahan, tubuh meningkatkan sekresi insulin dan menekan sekresi glukagon. Pada gilirannya ini memberi sinyal pada sel-sel lemak untuk menyimpan lebih banyak kalori, meninggalkan lebih sedikit kalori yang tersedia untuk bahan bakar otot, dan jaringan aktif metabolik lainnya.

Otak merasakan bahwa tubuh tidak mendapatkan energi yang cukup di mana menyebabkan perasaan lapar. Selain itu, metabolisme dapat melambat dalam upaya tubuh untuk menghemat bahan bakar.

Dengan demikian, kita cenderung tetap lapar, bahkan ketika kita terus mendapatkan kelebihan lemak.

"Mengurangi konsumsi karbohidrat yang cepat dicerna dan membanjiri pasokan makanan dengan diet rendah lemak mengurangi dorongan yang mendasari penyimpananlemak tubuh. Akibatnya, orang dapat menurunkan berat badan dengan lebih sedikit rasa lapar dan perjuangan," ujar penulis utama Dr David Ludwig, Ahli Endokrinologi di Rumah Sakit Anak Boston dan Profesor di Harvard Medical School.

Baca Juga: Sukses Diet, Ivan Gunawan Bangun Masjid Atas Namanya dan Deddy Corbuzier

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Benar-benar Asli Orang Jogja atau Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Warna Helm Motor Favorit Ungkap Karakter Pasangan Ideal, Tipe Mana Idamanmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kim Seon-ho atau Cha Eun-woo? Cari Tahu Aktor Korea yang Paling Cocok Jadi Pasanganmu!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tes Kepintaran GTA Kamu Sebelum Grand Theft Auto 6 Rilis!
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Kamu Tipe Red Flag, Green Flag, Yellow Flag atau Beige Flag?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Kabar Kamu Hari Ini? Cek Pesan Drakor untuk Hatimu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tablet Apa yang Paling Cocok sama Gaya Hidup Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Film Makoto Shinkai Mana yang Menggambarkan Kisah Cintamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Jadi Superhero, Kamu Paling Mirip Siapa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Destinasi Liburan Mana yang Paling Cocok dengan Karakter Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI