alexametrics

Kasus Harian Turun Drastis, Epidemiolog Ungkap Data Covid-19 Indonesia yang Tidak Wajar

Vania Rossa | Lilis Varwati
Kasus Harian Turun Drastis, Epidemiolog Ungkap Data Covid-19 Indonesia yang Tidak Wajar
Ilustrasi Tes Covid-19. (Shutterstock)

Yang terjadi di Indonesia saat ini, hasil testing masih bercampur dengan tes antigen yang nilai akurasinya lebih rendah dari PCR.

Suara.com - Epidemiolog dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK. mengungkapkan ada hal yang tidak wajar pada data kasus Covid-19. Ketidakwajaran itu terlihat pada jumlah testing Covid-19 yang dilaporkan tinggi, namun angka suspek (orang yang diduga terinfeksi Covid-19) justru terus bertambah.

Menurutnya, penelusuran kasus Covid-19 seharusnya lebih banyak dilakukan dengan menggunakan alat tes PCR. Namun yang terjadi di Indonesia saat ini, hasil testing masih bercampur dengan tes antigen yang nilai akurasinya lebih rendah dari PCR.

"Jumlah tes dilaporkan tinggi (padahal karena gabungan), angka kasus baru rendah sekali, angka positivitas (gabungan) dilaporkan rendah sekali. Tapi jumlah suspek terus meningkat dari hari ke hari. Ini tidak wajar," kata dokter Tonang, dikutip dari tulisannya di Twitter, Jumat (17/9/2021).

Kebijakan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam penanganan Covid-19 sebenarnya sudah tepat, dengan memprioritas tes untuk suspek dan kontak erat. Bukan sekadar skrinning tanpa indikasi, lanjut dokter Tonang.

Baca Juga: Kasus Covid-19 Turun, Ada Pesan Ahli Epidemiologi buat Masyarakat Indonesia

Selain itu, Kemenkes juga menetapkan kalau tes antigen sebenarnya hanya cadangan dan pelengkap untuk skrining.

"Bila angka positivitas masih tinggi, jumlah tes harus dilipatgandakan mengikutinya. Sudah tepat sebenarnya," ucap Tonang.

Ia menjelaskan, saat testing ditingkatkan untuk mengimbangi peningkatan angka positivitas, awalnya pasti terjadi peningkatan kasus positif. Tapi perlahan jumlah infeksi baru juga akan menurun. Seperti yang dilakukan Dinas Kesehatan DKI Jakarta dalam melakukan skrining dan testing Covid-19.

DKI Jakarta telah meningkatkan tes PCR sejak pertengahan Agustus lalu. Hingga 12 September, rata-rata testing PCR mingguan hampir 120 ribu, meningkat dari pertengahan Agustus yang hanya sekitar 80 ribu.

Namun jumlah kasus positifnya juga turun dari 5.461 kasus pada periode 16-22 Agustus, menjadi 2.020 pada 6-12 September.

Baca Juga: Edy Rahmayadi Minta Daerah Jangan Saling Menyalahkan Terkait Data Covid-19

"Itu penurunan yang logis dan wajar, mudah dijelaskan secara logika dan teori ilmiah. Bukan penurunan yang tajam padahal tesnya masih kurang," kata Tonang.

Ahli pantologi klinik itu mencatat, jumlah suspek secara nasional justru terus bertambah setiap hari. Meski testing juga meningkat, akan tetapi jumlahnya masih lebih banyak dari hasil tes antigen daripada PCR.

Ia menekankan bahwa jumlah suspek harus menjadi prioritas pertama tes Covid-19 agar jelas status infeksinya. Sehingga bisa ditindaklanjuti dengan pelacakan kontak atau tracing yang targetnya, dalam maksimal 72 jam ditemukan minimal 15 kontak erat.

"Sesuai kebijakan Kemenkes dibutuhkan tes Covid-19 agar jelas status kontak erat itu, positif (lanjut isolasi) atau negatif (bisa segera aktivitas lagi). Bukan menggantung. Akhirnya terpaksa "membolos" dari karantina, termasuk yang disebut 3.800 an orang terdeteksi ke mal itu," ujarnya.

Sementara itu, Satgas Covid-19 mengakui bahwa jumlah testing di beberapa daerah masih lebih banyak antigen daripada PCR. Kondisi itu terjadi lantaran keterbatasan fasilitas laboratorium PCR juga sumber daya manusia.

Ketua bidang data dan informasi teknologi Satgas Covid-19 Dr. Dewi Nur Aisyah juga menyampaikan bahwa PR lainnya dari tindakan testing belum fokus pada suspek, tetapi masih bercampur dengan indikasi lain.

Secara epidemiologis, testing lebih ideal dilakukan terhadap tiga kategori orang. Yakni yang mengalami gejala seperti Covid-19, pernah kontak erat dengan pasien Covid-19, dan baru pulang melakukan perjalanan dari daerah dengan tingkat paparan tinggi.

Namun yang terjadi di Indonesia, data testing bercampur dengan pemeriksaan yang di luar dari tiga kategori tersebut, seperti misalnya akan melakukan perjalanan. Terlebih saat dimasukkan hasil tes antigen dalam perhitungan positivity rate sejak Maret lalu.

"Kita memang masih punya PR karena ini bercampur dengan orang yang ingin melakukan perjalanan. Karena yang kita butuhkan sebetulnya yang paling baik dilakukan untuk penyelidikan epidemiologi dengan alasan mengonfirmasi orang tersebut terkonfirmasi atau tidak," papar Dewi.

Komentar